,

Kehidupan Doa Pribadi Daniel_Bagian 2


Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya. Daniel 6:11

Posting ini merupakan sambungan dari bagian 1


Daniel berlutut ketika berdoa. 


Jika kita memiliki  waktu, berlututlah. Mari kita menekuk lutut kita di hadapan tahta keagungan Allah yang maha tinggi, dan menunjukkan rasa hormat kita terhadap-Nya. Namun betapapun besarnya berkat-berkat yang telah Dia berikan kepada kita, kita masih makhluk lemah yang sering gagal untuk sungguh-sungguh dapat bertekuk lutut di hadapanNya. Ini bukan sekedar sikap tubuh, namun lebih kepada sikap hati kita. Penyerahan dan ketundukan yang murni dan total dari hati, jiwa dan pikiran kita kepada seluruh kuasa dan kehendak Allah. ("Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Matius 22:37) Betapa kita telah diberikan hak istimewa ketika kita dimampukan untuk dapat sungguh-sungguh  bertekuk lutut di hadapanNya, karena hal ini menunjukkan bahwa kita mengakui otoritas, keagungan, kebesaran, dan kemuliaan Allah.



Baru–baru ini saja saya mendapat kehormatan untuk berada di Jerman dan Belanda dan sungguh suatu pemandangan luar biasa ketika saya menyaksikan 900 saudara-saudari berlutut ketika tiba waktunya untuk berdoa. Hal itu sungguh menyentuh hati saya. Hal ini merupakan bukti bagaimana banyak individu dapat berkumpul untuk bersama-sama berdoa secara kolektif ketika situasinya sesuai /memungkinkan. C.H.Mackintoshmerasa bahwa tidak berlutut merupakan indikasi ketidaksopanan jika kita tidak berlutut ketika kita diberikan kesempatan untuk melakukannya, bahwa hal ini menunjukkan sikap terlalu santai di hadapan kemuliaan hadirat Allah yang maha besar dan yang jauh melampaui kita.
Berlutut ketika berdoa adalah tindakan fisik yang menunjukkan pengakuan atas kekuasaan dan kebesaran Allah yang kekal. Apakah Anda pernah merasa terdorong untuk berlutut? Saya tidak memaksudkan agar anda berlutut karena terpaksa, melainkan terdorong karena anda merasa berlutut adalah hal yang benar untuk dilakukan. Mungkin kita dapat mulai berdoa dengan sikap santai sebagai awal, namun berlututlah jika Roh Kudus mengarahkan kita untuk berlutut di hadapanNya sebagai pengakuan atas kuasaNya. 



Kita memiliki teladan yang luar biasa, yaitu Tuhan Yesus Kristus sendiri,seperti yang kita lihat ketika Dia berlutut di taman Getsemani. Yesus berlutut ketika beratnya penyaliban yang harus ditanggungNya sedang makin mendekati, Ia berlutut dalam pergumulanNya dan berdoa.  (“Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya, lalu Ia berlutut dan berdoa, kata-Nya: Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi. Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.” Lukas 22:41). Paulus ( “Sesudah mengucapkan kata-kata itu Paulus berlutut dan berdoa bersama-sama dengan mereka semua.” Kisah Para Rasul 20:36), Salomo (“--karena Salomo telah membuat sebuah mimbar tembaga yang panjangnya lima hasta, lebarnya lima hasta dan tingginya tiga hasta, yang ditaruhnya di halaman--;ia berdiri di atasnya lalu berlutut di hadapan segenap jemaah Israel dan menadahkan tangannya ke langit.” 2Tawarikh 6:13), Ezra (“Pada waktu korban petang bangkitlah aku dan berhenti menyiksa diriku, lalu aku berlutut dengan pakaianku dan jubahku yang koyak-koyak sambil menadahkan tanganku kepada TUHAN, Allahku,” Ezra 9:5) dan banyak lagi lainnya yang berlutut untuk berdoa di hadapan Tuhan.



Daniel  berlutut tiga kali sehari untuk berdoa dan bersyukur. 


Daniel adalah seorang tawanan, tidak memiliki kebebasan. Dia mungkin memiliki posisi yang baik, namun ia tidak memiliki hak istimewa untuk kembali ke negaranya dan kepada orang-orang sebangsanya. Dia melakukan segala sesuatu yang dilakukan warga Babel, tetapi Daniel tetap masih berdoa dan mengucap syukur, mengakui situasi yang sedang ia dan umat Israel hadapi  sebagai penghakiman Allah yang suci, ia tetap bersyukur bahwa ia masih dapat menikmati persekutuan yang indah dengan Tuhan. Kehidupan doa Daniel ini adalah pelajaran luar biasa yang patut kita teladani. 

Saya bertanya pada diri sendiri dan juga pada anda, apakah kita telah menyediakan waktu yang cukup dalam berdoa? 

Semoga teladan Daniel dapat menstimulasi kita secara pribadi, di rumah kita dan dalam persekutuan-persekutuan doa agar kita semakin giat untuk menyediakan waktu bagi Tuhan dengan berdoa dan menekuni FirmanNya.

 

Sumber : The Continual, Settled, Individual Prayer Life of Daniel oleh Frank Wallace untuk Biblecentre.org

,

Kehidupan Doa Pribadi Daniel_Bagian 1


Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya. Daniel 6:11

Posting ini adalah lanjutan dari posting : Rahasia Doa yang Efektif


Daniel sungguh memiliki hikmat tentang kehendak Allah. 

Hal ini ditunjukkan dari bagaimana dia membuka jendela ke arah Yerusalem. Ketika Bait Suci didedikasikan, Salomo berdoa kepada Allah demikian, “Apabila mereka berdosa kepada-Mu--karena tidak ada manusia yang tidak berdosa--dan Engkau murka kepada mereka dan menyerahkan mereka kepada musuh, sehingga mereka diangkut tertawan ke negeri yang jauh atau yang dekat, dan apabila mereka sadar kembali dalam hatinya di negeri tempat mereka tertawan, dan mereka berbalik, dan memohon kepada-Mu di negeri tempat mereka tertawan, dengan berkata: Kami telah berdosa, bersalah, dan berbuat fasik, apabila mereka berbalik kepada-Mu dengan segenap hatinya dan dengan segenap jiwanya di negeri orang-orang yang mengangkut mereka tertawan, dan apabila mereka berdoa kepada-Mu dengan berkiblat ke negeri mereka yang telah Kauberikan kepada nenek moyang mereka, ke kota yang telah Kaupilih dan ke rumah yang telah kudirikan bagi nama-Mu, maka Engkau kiranya mendengarkan dari sorga, dari tempat kediaman-Mu yang tetap, kepada doa dan segala permohonan mereka dan kiranya Engkau memberikan keadilan kepada mereka, dan Engkau kiranya mengampuni umat-Mu yang telah berdosa kepada-Mu.” (2Tawarikh 6:36-39). 


Di sini kita menemukan seorang pria yang penuh hikmat. Dia tidak melupakan firman Allah, dia tidak melupakan doa itu, karena Allah mendengar doa Salomo, kemudian TUHAN menampakkan diri kepada Salomo pada malam hari dan berfirman kepadanya: "Telah Kudengar doamu dan telah Kupilih tempat ini bagi-Ku sebagai rumah persembahan. Bilamana Aku menutup langit, sehingga tidak ada hujan, dan bilamana Aku menyuruh belalang memakan habis hasil bumi, dan bilamana Aku melepaskan penyakit sampar di antara umat-Ku, dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka. Sekarang mata-Ku terbuka dan telinga-Ku menaruh perhatian kepada doa dari tempat ini. Sekarang telah Kupilih dan Kukuduskan rumah ini, supaya nama-Ku tinggal di situ untuk selama-lamanya, maka mata-Ku dan hati-Ku akan ada di situ sepanjang masa. (2Tawarikh 7:12-16).



Kepentingan Allah menjadi pusat di tempat itu. 


Ketidaksetiaan bangsa Israel telah menjauhkan mereka dari pusat tersebut, namun hal ini tidak pernah mengubah fakta bahwa hadiratNya sebagai pusat di tempat itu sangatlah penting bagi Allah. Dan kita menemukan disini bagaimana seorang pria yang sedang dalam tawanan mengingat firman itu, Daniel mengetahui sepenuhnya bahwa dengan berdoa sesuai dengan firman itu maka Allah akan mendengarkan doanya; dan Allah memang sungguh mendengar dan menjawab doa-doanya. Dalam gua singa, dan dalam segala situasi, Allah datanguntuk membantu hamba-Nya. Allahnya Daniel mampu membebaskan dia dengan menyelamatkan Sadrakh, Mesakh dan Abednego (Daniel 3). Daniel telah menemukan bukti  betapa ajaibnya Allahnya! dan sementara raja Nebukadnezar resah tidak dapat tidur semalaman, Daniel dengan tenang melewatkan malam itu di tengah-tengah singa-singa liar, karena Allah telah menutup mulut singa-singa itu. Dengan kuasaNya Allah mengatur mahluk ciptaan bagi keselamatan hamba-Nya. Sungguh Allah yang luar biasa!

 

Daniel sangat mengutamakan kepentingan Allah. 


Tiga kali ia berlutut hari demi hari, membuka jendela ke arah Yerusalem. Saya yakin dia tidak hanya berdoa untuk memohon pertolongan dan minta diberi kekuatan bagi dirinya sendiri , Danielmembuang keinginan hatinya, karena umat Allah seharusnyalah tidak lagi terikat sebagai tawanan, melainkan menyerahkan dirinya untuk dipimpin keluar dari pembuangan kepada hadirat Allah, untuk menikmati pikiran-pikiran Allah yang telah dirancang-Nya bagi umat-Nya. Saya percaya hal inilah yang menjadi beban utama dalam doa-doa Daniel ketika ia berlutut di hadapan Allah, karena ketika doa dinaikkan sesuai dengan kehendak Allah, Allah mendengar dan menjawabnya.
 


Allah mempertahankan hak-hak hamba-Nya. 


Ketika raja-raja lainnya meninggal dunia, Daniel masih hidup dan makin makmur (“Darius, orang Media, menerima pemerintahan ketika ia berumur enam puluh dua tahun.”  Daniel 5:31, “Lalu berkenanlah Darius mengangkat seratus dua puluh wakil-wakil raja atas kerajaannya; mereka akan ditempatkan di seluruh kerajaan; membawahi mereka diangkat pula tiga pejabat tinggi, dan Daniel adalah salah satu dari ketiga orang itu; kepada merekalah para wakil-wakil raja harus memberi pertanggungan jawab, supaya raja jangan dirugikan. Maka Daniel ini melebihi para pejabat tinggi dan para wakil raja itu, karena ia mempunyai roh yang luar biasa; dan raja bermaksud untuk menempatkannya atas seluruh kerajaannya.”  Daniel 6: 1-3). Perubahan dinasti kekuasaantidak membuat perbedaan sama sekali pada hidup Daniel, kehidupannya berlanjut dengan lancar dan ia terus melakukan hal-hal yang menyenangkan hati Tuhan. Sungguh seorang pria beriman yang hebat! Lagi-lagi hal ini adalah hasil dari kehidupan doa-Nya, kebenaran dalam hidupnya dan kehendak hatinya yang selalu mengutamakan kepentingan-kepentingan Allah. Inilah hal-hal yang memelihara dan menjadikan kehidupan Daniel suatu kesaksian yang luar biasa.


Bersambung ke bagian 2


Sumber : The Continual, Settled, Individual Prayer Life of Daniel oleh Frank Wallace untuk Biblecentre.org

,

Rahasia Doa yang Efektif


"Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya." (Daniel 6: 11)



Saya memilih bagian dalam pasal 6 ini untuk menunjukkan sedikit dari kehidupan doa pribadi Daniel sebelum kita mempertimbangkan dua bagian lainnya. Di sini kita menemukan rahasia sebenarnya akan kehebatan orang ini. Daniel adalah seorang tawanan di Babel namun dalam hal ini ia tidak tunduk pada hukum raja Babel, ia tidak tunduk pada peraturan-peraturan yang diberlakukan kepadanya, ia hanya benar-benar peduli untuk melakukan kehendak Allah. Dia mengetahui kehendak Allah, dan apapun keadaan atau situasi pada saat itu, ia tetap tunduk pada kehendak Allah itu terlepas dari bahaya dan perlawanan yang akan timbul. Daniel adalah seorang pria sejati yang beriman.


Dalam pasal ini Allah mengungkapkan kepada kita tentang rahasia kekuatan dan kesetiaan-Nya, yaitu kehidupan doa pribadinya yang konsisten. Setelah mendengar perintah raja ia "berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya." Itu bukan suatu tindakan doa yang tiba-tiba dilakukan karena keadaan yang sulit atau karena hidupnya sedang dalam bahaya, ini merupakan praktek terus-menerus yang sudah biasa dilakukannya. Ini bukan sesuatu yang dipaksakan kepadanya, berdoa adalah sukacitanya. Betapa cara ini merupakan cara yang baik untuk diterapkan pada kehidupan doa kita,  dengan meneladani kebiasaan Daniel, berdoa tiga kali sehari. Saya sangat yakin bahwa Daniel tidak mengijinkan apapun mengganggu saat-saat ketika ia sedang berlutut untuk berdoa di hadapan Allah. Daniel adalah orang penting yang memiliki tanggung jawab besar dalam administrasi pemerintahan, meskipun demikian  ia tetap menyediakan waktu tiga kali sehari, sebagai porsi tetapnya untuk berdoa. Kita tidak tahu berapa lama ia berdoa, yang dapat kita ketahui adalah bahwa ia melakukannya,  berdoa, berdoa dan berdoa adalah kebiasaan tetapnya. Kita akan membahas kemudian substansi doanya.

 
Daniel berdoa kepada "Tuhan-Nya".


Daniel bukan berdoa kepada Tuhan yang berada nun jauh disana, melainkan kepada Allah yang ia kenal secara pribadi dalam persekutuan pribadi. Tuhan adalah realitas baginya. Tuhan bukanlah konsepsi abstrak pikiran, melainkan Allah yang hidup dan mulia. Allah yang selalu dapat ia andalkan setiap saat dalam segala situasi dan tempat dimana ia dapat menemukan jawaban, dan yang juga dari hari ke hari didalam persekutuan, merupakan kegembiraannya, sukacitanya dan hidupnya. Seperti ini jugakah pengalaman anda dan saya dalam berdoa? Apakah Allah dekat dengan kita, ataukah Dia jauh? Ini benar-benar tantangan! Kita memerlukan saudara-saudari yang mengenal Allah seperti ini, karena Allah mendengar doa-doa umat-Nya dan Allah senang menjawab doa-doa mereka ketika doa-doa itu sesuai dengan kehendak-Nya.


Kebenaran seseorang merupakan kesaksian hidup akan adanya hubunganpribadi denganAllah. 
  • Dalam Yehezkiel 14:12-14 Daniel dihubungkan dengan dua orang lainnya, Nuh dan Ayub, dan Tuhan berkata, " Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku: Hai anak manusia, kalau sesuatu negeri berdosa kepada-Ku dengan berobah setia dan Aku mengacungkan tangan-Ku melawannya dengan memusnahkan persediaan makanannya dan mendatangkan kelaparan atasnya dan melenyapkan dari negeri itu manusia dan binatang, biarpun di tengah-tengahnya berada ketiga orang ini, yaitu Nuh, Daniel dan Ayub, mereka akan menyelamatkan hanya nyawanya sendiri karena kebenaran mereka, demikianlah firman Tuhan ALLAH.“ Dengan berfirman demikian, Allah mengarahkan perhatian kita pada kebenaran ketiga orang ini. Daniel adalah orang benar, artinya, ia menjalani hidupnya dengan mengakui hak-hak Allah dan mematuhi hak-hak Allah itu apapun akibatnya, karena itulah doa-doanya memiliki kekuatan
  • Yakobus mengatakan bahwa "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya." (Yakobus 5:16b), tetapi Amsal juga memberitahu kita bahwa “Siapa memalingkan telinganya untuk tidak mendengarkan hukum, juga doanya adalah kekejian.” (Amsal 28: 9). Kitajuga dapat membaca dalam 1Yohanes "Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya." ( 1Yohanes 5:14). 

Inilah rahasia besar dari doa-doa yang benar-benar efektif , karena doa-doa itu sesuai dengan kehendak Allah
 

Sumber : The Continual, Settled, Individual Prayer Life of Daniel oleh Frank Wallace untuk Biblecentre.org