,

Yesus Pembawa Damai





(Kejadian 49:8-10 Yehuda, engkau akan dipuji oleh saudara-saudaramu, tanganmu akan menekan tengkuk musuhmu, kepadamu akan sujud anak-anak ayahmu.Yehuda adalah seperti anak singa: setelah menerkam, engkau naik ke suatu tempat yang tinggi, hai anakku; ia meniarap dan berbaring seperti singa jantan atau seperti singa betina; siapakah yang berani membangunkannya? Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa.)

Sekalipun Kejadian 49:3-27 merupakan berkat Yakub kepada anak-anaknya (ayat 28), tetapi itu juga merupakan nubuat (ayat 1).

I) Arti nubuat ini.

1)   Ayat 8-10a jelas menunjukkan bahwa Yehuda akan menurunkan raja-raja.
2)   Ayat 10b: ini ayat sukar yang terjemahannya berbeda-beda.
KJV: ‘until Shilohcome’ (= sampai Shilohdatang).
NASB: ‘until Shilohcomes’ (= sampai Shilohdatang).
KS Indonesia: ‘sampai dia datang yang berhak atasnya’.
NIV/RSV: ‘until he comes to whom it belongs’ (= sampai dia yang mempunyainya datang).
Rupanya KS Indonesia, RSV, NIV menterjemahkan dari suatu manuscript yang berbeda yang berbunyi ‘until Sellohcomes’ [Derek Kidner (Tyndale)], yang bisa berarti:
·        ‘till what is his comes’(= sampai miliknya datang).
Ini seperti Septuaginta / LXX yang menterjemahkan: ‘till Judah’s full heritage appears’ (= sampai warisan penuh dari Yehuda muncul).

·        ‘until he comes, to whom it belongs’(= sampai dia yang mempunyainya datang).
Ini seperti terjemahan KS Indonesia, NIV, RSV.

Tetapi kebanyakan penafsir mempertahankan terjemahan KJV/NASB: ‘until Shilohcomes’ (= sampai Shilohdatang).
Sekarang, apa artinya Shiloh? Macam-macam arti:

·        Shiloh= Tranquility (= ketenangan / kesentosaan).
·        Shiloh= The Peaceable One (= Orang yang suka damai).

·        Shiloh= The Pacifier (= Pembawa damai / perdamaian).
Keil & Delitzsch: Kata Shilohditurunkan dari kata Shalah, yang berarti to be quiet (= tenang), to enjoy rest (= menikmati ketenangan), security (= keamanan). Shiloh tidak harus menunjuk pada tempat (a place of rest) tetapi bisa menunjuk kepada orang, yaitu ‘the man of rest’ (= manusia damai) atau ‘the bearer of rest’ (= pembawa damai).

 

II) Penggenapan nubuat ini.

  1. Pada jaman Musa, Yehuda sudah menduduki tempat terutama di antara semua suku (Bilangan 2:2-3 Bilangan 7:12 Bilangan 10:14).
  2. Setelah Yosua mati, Yehuda yang pertama menyerang orang Kanaan yang tersisa (Hakim-hakim 1:1-2).
  3. Pada jaman hakim-hakim, hakim pertama berasal dari suku Yehuda, yaitu Otniel (Hakim-hakim 3:9 bandingkan dengan Yosua 15:1-12,13-19,20-63).
  4. Dalam perang saudara antara suku-suku Israel melawan suku Benyamin, suku Yehuda yang maju dahulu (Hakim-hakim 20:18).
  5. Raja Daud berasal dari suku Yehuda (bandingkan dengan 1Tawarikh 28:4). Tetapi mengapa raja pertama, yaitu Saul, bukan dari suku Yehuda, tetapi dari suku Benyamin? Calvin berkata: karena sekalipun Allah menghendaki adanya raja, tetapi Israel meminta adanya raja terlalu cepat dan meminta dengan motivasi yang salah, sehingga Allah memberi raja yang salah, yaitu Saul.
  6. Raja Salomo (Ibrani: Shelomoh), arti namanya adalah the peaceful one (= orang yang penuh damai). Baca 1Tawarikh 22:9-10! 
  7. Puncak penggenapan adalah dalam diri Yesus / Mesias.

 

III) Yesus sebagai Pembawa Damai.


Yesaya 9:6
Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.


Bahwa Yesus adalah Pembawa Damai, juga terlihat dari:
1)  Nubuat-nubuat Perjanjian Lama yang lain:
a)   Yesaya 9:5-6a (Kitab Suci bahasa Inggris Yesaya 9:6-7a) menyebutNya The Prince of Peace / Raja Damai.
Kata Ibrani untuk peace / damai adalah Shalom.
b)   Mikha 5:1-4 jelas merupakan nubuat tentang kelahiran Mesias, dan dalam ayat 4nya dikatakan: ‘dia menjadi damai sejahtera (SHALOM)’ [NIV: he will be their peace (= ia akan menjadi damai sejahtera mereka)].
2)  Melkizedek, yang adalah TYPE (bayangan) dari Kristus, adalah raja Salem (Kejadian 14:18). Kata SALEM berarti peaceful (= penuh damai).
3)  Pada Natal yang pertama, para gembala di padang melihat sejumlah malaikat menyanyi memuji Allah:
“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya(Lukas 2:14).
4)  Matius 11:28-30 - “Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah kepadaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKupun ringan”.
5)  Yohanes 14:27 - “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahteraKu Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu”.
6)  2Korintus 5:18a,19a - “... Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diriNya ... Sebab Allah telah mendamaikan dunia dengan diriNya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka”.
7)   Efesus 2:11-18 – bacalah ini dalam Kitab Suci saudara!


Dari ayat-ayat di atas terlihat bahwa ada 3 macam damai yang menjadi tujuan Kristus datang ke dalam dunia:

1.   Damai antara manusia berdosa dengan Allah (Efesus 5:11-18 2Korintus 5:18-19).
Ini hanya bisa tercapai melalui iman kepada Yesus (Roma 5:1 - “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita Yesus Kristus”).
Yesus datang pada Natal yang pertama dengan tujuan utama untuk mendamaikan manusia berdosa dengan Allah. Untuk itu Ia mati disalib menebus dosa manusia. Sekarang, kalau saudara mau berdamai dengan Allah, saudara hanya perlu percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan saudara! Maukah saudara?

2.   Damai dalam hati (Matius 11:28-30 Yohanes 14:27).
Rusaknya atau tidak adanya hubungan dengan Allah menyebabkan manusia tidak mempunyai damai dalam hati mereka (bandingkan dengan Kejadian 3). Sebaliknya yang ada hanyalah kegelisahan, kekosongan, kekuatiran, ketakutan, kesumpekan, dsb. Ada banyak orang yang berusaha mendapatkan damai dengan mencari kekayaan, kesenangan, hiburan dsb. Tetapi semua itu paling banyak hanya bisa memberikan kesenangan semu yang bersifat lahiriah / di luar, dan yang tahan hanya sebentar saja! Tetapi kalau saudara mau datang kepada Yesus dan diperdamaikan dengan Allah, maka saudara akan mendapat damai di hati yang berbeda dengan damai yang semu dan lahiriah itu.
Yohanes 14:27 - “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahteraKu Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu”.

3.   Damai antara manusia dengan manusia (Efesus 2:14-16).
Yesus pernah mengucapkan kata-kata yang mengejutkan dan sangat membingungkan banyak orang, yaitu dalam Matius 10:34-36 yang berbunyi:
“Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya”.
Artinya: kalau ada suatu keluarga atau kelompok mendengar tentang Yesus, dan lalu sebagian menolak Yesus tetapi sebagian menerima Yesus, maka orang-orang yang menolak Yesus itu bisa menjauhi, memusuhi, menganiaya, dan bahkan membunuh orang-orang yang menerima Yesus. Contoh: Yohanes 7:43 Yohanes 9:16 Kisah Para Rasul 14:1-4. Tentu saja kalau hal ini terjadi, itu bukanlah salah dari orang-orang yang menerima Yesus, dan lebih-lebih bukan salahnya Yesus, tetapi salahnya orang-orang yang menolak Yesus.
Tetapi sebaliknya, dua kelompok yang dulunya bermusuhan, setelah kedua kelompok itu sama-sama percaya kepada Yesus, lalu bersatu / berdamai. Misalnya: masuknya orang Samaria ke dalam gereja Yahudi (Kisah Para Rasul 8).


Ketiga damai di atas dipengaruhi oleh dosa! Kalau kita berbuat dosa, apalagi dengan sengaja, maka:
  • sekalipun kita tidak kembali menjadi musuh Allah, tetapi hubungan / persekutuan dengan Allah merenggang.
  • damai dalam hati bisa hancur dan berubah menjadi kegelisahan, kesumpekan dsb.
  • damai dengan sesama, bahkan dengan sesama saudara seiman, tentu juga bisa hancur, dan berubah menjadi perpecahan, permusuhan dsb.

 

Kesimpulan / penutup:

Bagi saudara-saudara yang belum sungguh-sungguh percaya kepada Yesus, berilah diri saudara diperdamaikan dengan Allah melalui iman kepada Kristus! Mungkin saudara tidak merasa perlu berdamai dengan Allah, karena saudara tidak pernah merasa bermusuhan dengan Allah. Tetapi ingat bahwa:
  • Sejak Adam jatuh ke dalam dosa, semua kita lahir dalam keadaan berdosa (dosa asal), dan ini menyebabkan sejak kita lahir, kita sudah ada di bawah murka Allah (Efesus 2:1-3).
  • Setiap dosa yang kita lakukan, besar atau kecil, sengaja atau tidak, melalui kata-kata, hati pikiran atau tingkah laku kita, menyakiti Allah yang maha suci.
Karena itulah maka semua manusia membutuhkan perdamaian dengan Allah melalui Yesus Kristus ini! Maukah saudara datang kepada Yesus?

Bagi saudara-saudara yang sudah percaya, rayakanlah Natal tahun ini dengan suatu tekad untuk membuang semua dosa, supaya damai dengan Allah, damai dalam hati, dan damai dengan sesama bisa makin ditingkatkan, dan dengan demikian tujuan Yesus berNatal terwujud dalam hidup saudara. Maukah saudara? 

Tuhan memberkati saudara.

 - AMIN -



Sumber : Golgotha Ministry, Yesus Pembawa Damai oleh Pdt. Budi Asali, M.Div.


  



 

,

Imanuel : Allah beserta kita!


Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel --yang berarti: Allah menyertai kita. Matius 1:23.


Dalam nubuat tentang kelahiran melalui anak dara/perawan, nabi Yesaya menyatakandalam Yesaya 7:14, "Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel."


Tetapi, mengapa Yesus tidak diberi nama Imanuel?


Nubuat ini mengacu pada kelahiran Yesus dalam Matius 1: 22-23, "Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi:  Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel --yang berarti: Allah menyertai kita."  Namun hal ini tidak berarti, bahwa nama Sang Mesias adalah Imanuel.


Ada banyak nama yang diberikan kepada Yesus menggunakan kata "Ia akan disebut" baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Ini adalah cara yang umum untuk menyatakan bahwa orang akan merujuk kepada Yesus dalam berbagai cara. Nabi Yesaya menubuatkan tentang Mesias, " dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai." (Yesaya 9: 6). Tak satu pun dari gelar-gelar tersebut menjadi nama Yesus , gelar-gelar tersebut adalah pejelasan yang digunakan orang untuk merujuk kepada Yesus selama-lamanya.


Lukas mengatakan bahwa Yesus "akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya," (Lukas 1:32) dan "akan disebut kudus,  Anak Allah" (Lukas 1:35), namun tidak satupun dari sebutan-sebutan ini dipakai menjadi namaNya.

 
Di dua tempat yang berbeda, ketika mengacu pada Mesias yang akan datang, nabi Yeremia berkata, "Dan ini adalah nama-Nya dengan yang Dia akan disebut, YHWH, KEBENARAN KAMI
  • Yeremia 23: 5-6 Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri. Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan, dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: TUHAN--keadilan kita.
  • Yeremia 33: 15-16 Pada waktu itu dan pada masa itu Aku akan menumbuhkan Tunas keadilan bagi Daud. Ia akan melaksanakan keadilan dan kebenaran di negeri. Pada waktu itu Yehuda akan dibebaskan, dan Yerusalem akan hidup dengan tenteram. Dan dengan nama inilah mereka akan dipanggil: TUHAN keadilan kita! 

Sekarang kita tahu bahwa Allah Bapa, bernama Yahweh. Yesus tidak pernah benar-benar disebut Yahweh sebagai nama-Nya, tapi Peran-Nya adalah membawa kebenaran Yahweh bagi mereka yang percaya kepada-Nya, Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah." 2 Korintus 5:21). Oleh karena itu, ini juga adalah salah satu dari banyak gelar atau "nama" yang menjadi milik-Nya.

 
Dengan cara yang sama, pernyataan bahwa Yesus akan disebut "Imanuel" berarti  bahwa Yesus adalah Allah dan bahwa Dia diam di antara kita dalam inkarnasi-Nya dan bahwa Dia selalu bersama kita. Yesus adalah Allah yang menjadi manusia. Yesus adalah Tuhan yang diam di antara kita (Yohanes 1: 1 Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah, Yohanes 1:14 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran).  


Jadi namaNya adalah Yesus, tapi nama Yesus memiliki makna Imanuel yang berarti"Allah menyertai/beserta kita." Imanuel adalah salah satu dari banyak gelar bagi Yesus yang menjelaskan tentang siapa Yesus.



Sumber: GotQuestions.org

 
Pesan Injil mengucapkan 'Selamat Hari Natal', kiranya damai sejahtera, kasih setia dan sukacita yang dari Allah menyertai kita sekalian.




,

Kelahiran dari Seorang Perawan


Doktrin kelahiran dari seorang perawan adalah sangat penting. 
 




Yesaya 7:14 : Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.

Matius 1:23 : Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel --yang berarti: Allah menyertai kita.


Lukas 1:26-35 :
26 Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, 27 kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. 28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." 29 Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. 30 Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. 31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. 32 Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, 33 dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." 34 Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" 35 Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.


Pertama-tama, mari kita lihat bagaimana Alkitab menggambarkan peristiwa itu.
  1. Sebagai jawaban atas pertanyaan Maria, (Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" Lukas 1:34) malaikat Gabriel berkata: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. (Lukas 1:35).
  2. Malaikat mendorong Yusuf untuk menikahi Maria dengan kata-kata ini: “Sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.” (Matius 1:20). Matius menjelaskan bahwa anak perawanitu “mengandung dari Roh Kudus” (Matius 1:18). Kitab Galatia 4:4 juga secara jelas sekali mengajarkan kelahiran dari seorang perawan, “Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan.”


Dari ayat-ayat itu, jelas kelahiran Yesus adalah hasil pekerjaan Roh Kudus dalam tubuh Maria. Hal yang imaterial/bukan materi (Roh Kudus) dan hal yang materi (kandungan Maria) sama-sama mengambil bagian. Tentunya Maria tidak dapat menghamili dirinya sendiri, dan dalam konteks ini, dia hanyalah ”wadah.”

Inilah Inkarnasi, Allah menjadi manusia. Hanya Allah yang dapat melakukan mukjizat inkarnasi ini.
 
Menyangkali adanya keterikatan fisik antara Maria dan Yesus sebagai ibu dan anak, sama saja dengan menyangkali bahwa Yesus itu bukan betul-betul manusia. 
  • Alkitab mengajarkan bahwa Yesus itu manusia sepenuhnya, dengan tubuh fisik seperti kita. Tubuh materi-Nya diterima dari tubuh Maria.
  • Pada saat bersamaan, Yesus juga sepenuhnya Allah, tidak berdosa dan kekal.Lihat Yohanes 1:14 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.; 2 Korintus 5:21 Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah. 1 Timotius 3:16 Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: "Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan.".
lihat juga : Yesus 100% Allah 100% Manusia

Yesus tidak dilahirkan dalam dosa, yang berarti Dia tidak memiliki dosa asal
Ibrani 7:26-27 Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga, yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban. 
Dari penjelasan Paulus, dosa asal tampak diwariskan dari satu generasi ke generasi lainnya melalui ayah.
Roma 5:12 Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang (Adam), dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa; 
Roma 5:17-19 Sebab, jika oleh dosa satu orang (Adam), maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus. Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran (oleh Adam) semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran (Kristus) semua orang beroleh pembenaran untuk hidup. Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang (Adam) semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang (Yesus Kristus) semua orang menjadi orang benar.
 



Kelahiran melalui seorang perawan juga merupakan penggenapan dari janji pertama Allah tentang Mesias dalam kitab Kejadian 3:15 (Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau (ular/setan) dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya) Dalam ayat ini, Allah tidak berkata 'mereka' untuk menunjuk kepada Adam dan Hawa dan tidak berkata 'keturunan mereka', tetapi  secara spesifik Allah menunjuk hanya kepada 'perempuan', maka kata 'keturunannya' menunjuk pada keturunan perempuan. Kondisi Maria yang masih perawan, belum pernah bersetubuh dengan laki-laki/belum bersuami, menggenapi janji ini bahwa Mesias adalah keturunan perempuan, dimana Allah sendiri yang menjadikan bayi didalam kandungan Maria tanpa seorang laki-laki.


Jadi kelahiran dari seorang anak perawan menghindari pewarisan dosa asal sehingga Allah yang kekal bisa terlahir sebagai manusia yang sempurna tanpa dosa.



Sumber : GotQuestions.org,  Pesan Injil.


 

,

Nubuat tentang Kristus dalam Alkitab Perjanjian Lama



Ada banyak nubuat dalam Perjanjian Lama tentang Yesus Kristus. Beberapa penafsir menyatakan ada ratusan nubuat Mesianik. 



Nubuat Mesianik

Berikut ini adalah yang dianggap paling jelas dan paling penting.
 


Mengenai kelahiran Yesus :



  • Yesaya 7:14: "Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel." 
  • Yesaya 9: 6: "Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai." 
  • Mikha 5: 2: "Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala."


Mengenai pelayanan dan kematian Yesus :


  • Zakharia 9: 9: "Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda." 
  • Mazmur 22: 16-18: "Sebab anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku. Segala tulangku dapat kuhitung; mereka menonton, mereka memandangi aku. Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku.”




Kemungkinan nubuat paling jelas tentang Yesus adalah seluruh pasal 53 dari kitab Yesaya


Terutama Yesaya 53:3-7: 
Yesus Sang Mesias, Nubuat Telah Digenapi



3 Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. 

4 Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. 

5 Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.

6 Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.

7 Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.
 

Yesaya 50:6 secara akurat menggambarkan penganiayaan yang dialami Yesus. 

"Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi."



Zakharia 12:10 menubuatkan "penikaman" atas sang Mesias, yang terjadi setelah Yesus mati di kayu salib

"Aku akan mencurahkan roh pengasihan dan roh permohonan atas keluarga Daud dan atas penduduk Yerusalem, dan mereka akan memandang kepada dia yang telah mereka tikam, dan akan meratapi dia seperti orang meratapi anak tunggal, dan akan menangisi dia dengan pedih seperti orang menangisi anak sulung."



Banyak contoh lagi yang dapat diberikan, tetapi bagian-bagian penting telah mencukupi untuk menunjukan bahwa Perjanjian Lama dapat dipastikan menubuatkan kedatangan Yesus sebagai Mesias.


Sumber : GotQuestions.org

,

Yesus datang pada waktu yang tepat


Mengapa Allah mengutus Yesus pada waktu itu? Mengapa tidak lebih awal? Mengapa bukan di kemudian hari?

“Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.” (Galatia 4:4). 


Ayat di atas menyatakan bahwa Allah Bapa mengutus AnakNya “setelah genap waktunya.”
 
Ketika Pengharapan datang setelah genap waktunya... Galatia 4:4-5



Ada banyak hal yang terjadi pada abad pertama, yang secara logika manusia, membuat saat itu sebagai saat yang  dianggap ideal untuk kedatangan Kristus. Hal tersebut meliputi:
  1. Di antara orang-orang Yahudi saat itu, ada antisipasi yang tinggi bahwa Mesias akan datang. Penjajahan Roma atas Israel membuat orang-orang Yahudi begitu mengharapkan kedatangan Mesias.
  2. Roma telah menyatukan sebagian besar dunia di bawah pemerintahannya, memberi kesan bersatu kepada berbagai wilayah. Lagipula, karena secara umum kekaisaran itu cukup aman, maka orang-orang Kristen-mula-mula dapat mengadakan perjalanan untuk mengabarkan Injil, di mana hal ini tidak mungkin terjadi pada waktu yang berbeda.
  3. Kalau Roma menaklukkan secara militer, maka Yunani menaklukkan secara budaya. Bentuk bahasa Yunani yang “umum” (berbeda dari bahasa Yunani klasik) merupakan bahasa perdagangan pada saat itu dan digunakan di seluruh kekaisaran sehingga memungkinkan untuk penginjilan kepada beraneka macam orang melalui bahasa yang umum itu.
  4. Fakta bahwa banyak ilah berhala tidak mampu memberi mereka kemenangan atas kekuasaan Roma menyebabkan banyak orang membuang penyembahan berhala mereka. Pada saat yang sama, di kota-kota yang lebih “berbudaya” filosofi Yunani dan ilmu pengetahuan pada zaman itu, telah menyebabkan kekosongan rohani, sama halnya seperti ketika atheisme dari pemerintahan Komunis menyebabkan kekosongan rohani di masa kini.
  5. Agama-agama mistis pada waktu itu menekankan allah-penyelamat dan menuntut persembahan darah dari penyembahnya, sehinga menyebabkan Injil Kristus yang hanya melibatkan satu korban persembahan utama dan satu-satunya dipercaya oleh mereka. Orang-orang Yunani juga percaya pada kekekalan jiwa (tetapi tidak percaya pada kekekalan tubuh). 
  6. Tentara Roma merekrut anggota pasukan dari provinsi-provinsi, memperkenalkan orang-orang ini pada budaya Roma dan pada berbagai ide (seperti misalnya Injil) yang belum sampai ke provinsi-provinsi yang terpencil. Injil pada mulanya diperkenalkan ke Inggris oleh para tentara Kristen yang berdinas di sana.
Pernyataan-pernyataan di atas hanyalah berdasarkan pandangan manusia akan zaman itu dan spekulasi mengenai mengapa titik sejarah tertentu merupakan waktu yang tepat untuk datangnya Kristus.
Namun, kita memahami bahwa jalan Allah melampaui jalan pikiran manusia, dan hal-hal yang kita bahas ini bisa saja ya atau tidak merupakan alasan mengapa Allah memilih waktu tersebut untuk mengutus anakNya.


Dari konteks Galatia 3 dan 4, nyata bahwa Allah berusaha meletakkan landasan bagi kedatangan Mesias melalui hukum Taurat orang Yahudi.
  • Taurat dimaksudkan untuk menolong manusia menyadari betapa dalamnya dosa mereka, (dalam konteks bahwa mereka tidak mampu untuk menaati Taurat/tidak mampu tidak berdosa), sehingga mereka mungkin lebih siap untuk menerima jalan keluar/solusi atas ketidakmampuan untuk tidak berdosa tersebut, yaitu dengan cara menerima Yesus, sang Mesias sebagai solusinya (Galatia 3:22-23 Tetapi Kitab Suci telah mengurung segala sesuatu di bawah kekuasaan dosa, supaya oleh karena iman dalam Yesus Kristus janji itu diberikan kepada mereka yang percaya. Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan. ; Roma 3:19-20 Tetapi kita tahu, bahwa segala sesuatu yang tercantum dalam Kitab Taurat ditujukan kepada mereka yang hidup di bawah hukum Taurat, supaya tersumbat setiap mulut dan seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman Allah. Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.).
  • Hukum Taurat juga berfungsi sebagai “penuntun” (Galatia 3:24 Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman.) yang membimbing orang kepada Yesus sebagai Sang Mesias. Hal ini dilakukan melalui berbagai nubuat mengenai Mesias yang digenapi oleh Yesus.
  • Ditambah lagi dengan sistem korban persembahan yang menunjuk pada perlunya korban untuk menebus dosa, dimana korban-korban tebusan tersebut sifatnya sementara sehingga harus dilakukan terus menerus.
  • Sejarah Perjanjian Lama juga melukiskan gambaran mengenai pribadi dan karya Kristus melalui berbagai peristiwa dan hari raya, misalnya peristiwa yang menunjukkan kerelaan Abraham untuk mempersembahkan Ishak, atau detail mengenai Paskah pada saat bangsa Israel keluar dari Mesir.

Daniel 9:24 Tujuh puluh kali tujuh masa telah ditetapkan atas bangsamu dan atas kotamu yang kudus, untuk melenyapkan kefasikan, untuk mengakhiri dosa, untuk menghapuskan kesalahan, untuk mendatangkan keadilan yang kekal, untuk menggenapkan penglihatan dan nabi, dan untuk mengurapi yang maha kudus. 25 Maka ketahuilah dan pahamilah: dari saat firman itu keluar, yakni bahwa Yerusalem akan dipulihkan dan dibangun kembali, sampai pada kedatangan seorang yang diurapi, seorang raja, ada tujuh kali tujuh masa; dan enam puluh dua kali tujuh masa lamanya kota itu akan dibangun kembali dengan tanah lapang dan paritnya, tetapi di tengah-tengah kesulitan. 26 Sesudah keenam puluh dua kali tujuh masa itu akan disingkirkan seorang yang telah diurapi, padahal tidak ada salahnya apa-apa. Maka datanglah rakyat seorang raja memusnahkan kota dan tempat kudus itu, tetapi raja itu akan menemui ajalnya dalam air bah; dan sampai pada akhir zaman akan ada peperangan dan pemusnahan, seperti yang telah ditetapkan. 27 Raja itu akan membuat perjanjian itu menjadi berat bagi banyak orang selama satu kali tujuh masa. Pada pertengahan tujuh masa itu ia akan menghentikan korban sembelihan dan korban santapan; dan di atas sayap kekejian akan datang yang membinasakan, sampai pemusnahan yang telah ditetapkan menimpa yang membinasakan itu.


Kristus datang pada saat itu sebagai penggenapan dari nubuat khusus. Daniel 9:24-27 berbicara mengenai tujuh puluh “minggu” atau tujuh puluh “tujuh.” Dari konteksnya, “minggu” dan “tujuh” itu merujuk pada kelompok tujuh tahun, bukan tujuh hari. Ketika orang menganalisa sejarah dan menderetkan detil-detil dari enam puluh sembilan minggu yang pertama (minggu ke tujuhpuluh akan terjadi di kemudian hari). Perhitungan tujuh puluh minggu dimulai dengan “saat Firman itu keluar, yakni bahwa Yerusalem akan dipulihkan dan dibangun kembali” (ayat 25). Perintah ini diberikan oleh Artahsasta pada tahun 445 S.M. (lihat Nehemia 2:5). Setelah 7 “tujuh” ditambah 62 “tujuh” atau 69 x 7 tahun, dikatakan di Daniel 9:26 bahwa “...akan disingkirkan seorang yang telah diurapi, padahal tidak ada salahnya apa-apa. Maka datanglah rakyat seorang raja memusnahkan kota dan tempat kudus itu, ..” dan akhirnya adalah “air bah” ; yang merujuk pada kerusakan dahsyat.

Di sini kita mendapatkan rujukan yang amat jelas kepada kematian sang Juruselamat di atas salib. 


Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!" Galatia 3:13 (Image credit: www.alittleperspective.com)

Seabad yang lalu dalam bukunya, The Coming Prince, Sir Robert Anderson memberikan kalkulasi detail mengenai enam puluh sembilan minggu tersebut, dengan menggunakan “tahun-tahun nubuatan,” dengan memperhitungkan tahun kabisat, kesalahan-kesalahan pada penanggalan, perubahan dari Tahun Sebelum Masehi ke Tahun Masehi, dan sebagainya. Ia menyimpulkan bahwa enam puluh sembilan minggu berakhir tepat pada hari di mana Yesus masuk ke Yerusalem dengan megah, lima hari sebelum kematianNya (Yohanes 12:12-19).

 
Apakah orang menerima perhitungan waktu ini atau tidak, faktanya jelas bahwa inkarnasi Yesus berhubungan dengan nubuat yang mendetail dengan yang dicatat oleh Daniel lima ratus tahun sebelumnya.

Inkarnasi Yesus begitu tepatnya dengan nubuat-nubuat para nabi sehingga orang-orang pada zaman itu dipersiapkan untuk kedatanganNya. Orang-orang pada setiap zaman sesudah ini mendapatkan bukti yang lebih dari cukup bahwa Yesus memang adalah Mesias yang dijanjikan. Karena Dia telah menggenapi Kitab Suci, yang telah menggambarkan dan menubuatkan kedatanganNya secara teliti.



Sumber : GotQuestions.org