Yesus adalah Mesias
Yesus adalah Mesias yang dijanjikan Allah. Apakah sebenarnya arti Mesias itu?
Mesiasberasal dari kata bahasa Ibrani Mashiach artinya "yang diurapi" atau "yang dipilih”. Kata ini setara dengan kata bahasa Yunani Christos atau, dalam bahasa Inggris, Kristus. Nama "Yesus Kristus" adalah sama dengan "Yesus sang Mesias." Dalam jaman Alkitab, mengurapi seseorang dengan minyak menandakan bahwa Allah menguduskan/menyucikan atau memisahkan orang yang diurapi itu untuk peran tertentu. Dengan demikian, "seorang yang diurapi" adalah seseorang yang ditahbiskan/diperintah secara khusus untuk melakukan rencana yang diperintahkan Allah.
Dalam Perjanjian Lama, orang diurapi untuk posisi/jabatan nabi, imam, dan raja. Allah memerintahkan Elia untuk mengurapi Elisa untuk menggantikannya sebagai nabi Israel (1 Raja-raja 19:16). Harun diurapi sebagai imam pertama Israel (Imamat 8:12). Samuel mengurapi Saul dan Daud sebagai raja-raja Israel (1 Samuel 10: 1; 16:13). Semua orang-orang ini memiliki posisi/jabatan yang "diurapi". Tapi Perjanjian Lama menubuatkan seorang Pembebas yang akan datang, yang dipilih Allah untuk membebaskan bangsa Israel (Yesaya 42:1 “Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.”; Yesaya 61: 1-3). Pembebas ini oleh orang Yahudi disebut Mesias.
Yesus dari Nazaret, dulu maupun sekarang adalah Mesias yang dinubuatkan itu. (Lukas 4: 17-21; Yohanes 4: 25-26). Dalam sepanjang Perjanjian Baru, kita melihat bukti bahwa Yesus adalah Yang Dipilih: “tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya." (Yohanes 20:31). Kita juga telah mendengar kesaksian Petrus bahwa Yesus adalah "Mesias, Anak Allah yang hidup" (Matius 16:16). Bukti utama bahwa Yesus memang adalah Mesias yang dijanjikan dan ‘Yang Diurapi’ adalah kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Kisah Para Rasul 10: 39-43 adalah kesaksian dari para saksi mata atas kebangkitan-Nya dan fakta bahwa "Dia adalah satu-satunya yang dipilih Allah sebagai hakim atas yang hidup dan yang mati."
Yesus memenuhi peran sebagai Nabi, Imam, dan Raja, yang merupakan bukti lebih lanjut tentang diri-Nya sebagai Mesias. Dia adalah seorang nabi, karena Dia adalah Firman yang menjadi manusia dan memberitakan Firman Allah (lihat Yohanes 1: 1-18; 14:24; dan Lukas 24:19); Dia adalah seorang imam, karena kematian-Nya menebus dosa-dosa kita dan mendamaikan kita dengan Bapa (lihat Ibrani 2:17; 4:14);dan Dia adalah seorang raja, karena setelah kebangkitan-Nya Allah memberikan semua kekuasaan kepada-Nya (lihat Yohanes 18:36; Efesus 1: 20-23; dan Wahyu 19:16).
Orang-orang Yahudi pada zaman Yesus mengharapkan Mesias untuk menebus Israel dengan menggulingkan kekuasaan Romawi dan mendirikan kerajaan duniawi (lihat Kisah Para Rasul 1: 6). Barulah setelah kebangkitan Yesus, para murid-Nya akhirnya mulai mengerti arti sesungguhnya yang dimaksudkan nubuat dalam Perjanjian Lama tentang apa yang akan dilakukan oleh Mesias (lihat Lukas 24: 25-27). Mesias "diurapi" pertama-tama untuk membebaskan umat-Nya secara rohani; yaitu, untuk menebus mereka dari dosa (Yohanes 8: 31-36). Dia telah menyelesaikan pekerjaan keselamatan ini melalui kematian dan kebangkitan-Nya (Yohanes 12:32; Yohanes 3:16). Kemudian, Yesus sang Mesias akan membebaskan umat-Nya dari musuh jasmani (fisik) mereka, ketika Dia datang kembali untuk mendirikan Kerajaan-Nya di bumi (lihat Yesaya 9: 1-7).
Sumber : GotQuestions.org
Arti Kristus
Yesus sering hanya disebut Kristus, atau secara lengkap namaNya sering disebut Yesus Kristus atau Kristus Yesus. Beberapa orang cukup heran ketika mereka menemukan bahwa, "Kristus" ternyata bukanlah nama belakangYesus. Jika Kristus bukan nama belakang Yesus, jadi apakah sebenarnya arti Kristus?
"Kristus" berasal dari kata Yunani Christos, yang artinya "yang diurapi" atau "yang dipilih." Ini adalah kata Yunani yang setara dengan kata Ibrani “Mashiach”, atau "Mesias." "Yesus" adalah nama manusia Tuhan yang diberikan kepada Maria oleh malaikat Jibril (Lukas 1:31). "Kristus" adalah gelar-Nya, menandakan Yesus diutus Allah untuk menjadi Raja dan Penebus (lihat Daniel 9:25; Yesaya 32: 1). "Yesus Kristus" berarti "Yesus SangMesias" atau "Yesus yang Diurapi."
Di jaman Israel kuno, ketika seseorang diberi kekuasaan, maka akan diurapi dengan cara dituangi minyak di kepalanya, hal ini untuk menandakan bahwa orang itu adalah orang yang dipilih/dikhususkan untuk melakukan pelayanan bagi Tuhan (misalnya, 1 Samuel 10: 1). Para raja-raja, imam-imam, dan nabi-nabi diurapi dengan cara demikian. Pengurapan adalah tindakan simbolis untuk menunjukkan pemilihan Allah (misalnya, 1 Samuel 24: 6). Meskipun secara harfiah pengurapan dilakukan dengan dituangi minyak, hal ini juga dapat merujuk kepada penyucian seseorang oleh Allah sekalipun tidak menggunakan minyak (Ibrani 1: 9).
Ada ratusan ayat-ayat nubuatan dalam Perjanjian Lama yang merujuk pada Mesias yang akan datang dan yang akan membebaskan umat-Nya (misalnya, Yesaya 61: 1; Daniel 9:26). Israel Kuno berpikir bahwa Mesias mereka akan datang dengan kekuatan militer untuk membebaskan mereka dari tawanan selama puluhan tahun oleh raja-raja duniawi dan bangsa-bangsa kafir. Tetapi Perjanjian Baru mengungkapkan sebuah pembebasan yang jauh lebih baik yang disediakan oleh Yesus sang Mesias, yaitu pembebasan dari kuasa dan hukuman dosa (Lukas 4:18; Roma 6:23).
Alkitab mengatakan Yesus telah diurapi dengan minyak dalam dua kesempatan terpisah oleh dua wanita yang berbeda (Matius 26: 6-7; Lukas 7: 37-38), tetapi pengurapan yang paling penting/signifikan adalah pengurapan oleh Roh Kudus (Kisah Para Rasul 10:38). Gelar "Kristus" berarti ‘Dia Yang Diurapi Tuhan’, ‘Dia yang menggenapi nubuat-nubuat Perjanjian Lama’, ‘Juruselamat yang Terpilih yang datang untuk menyelamatkan orang-orang berdosa’ (1 Timotius 1:15), dan ‘Raja diatas segala raja’ yang sedang datang kembali ke dunia untuk mendirikan Kerajaan-Nya di bumi (Zakharia 14: 9).
Sumber : GotQuestions.org
Yesus dari Nazaret
Yesus disebut sebagai "Yesus dari Nazaret" karena beberapa alasan. Untuk satu hal, di zaman Alkitab orang sering diidentifikasi oleh daerah asal atau tempat tinggal mereka. Misalnya, orang yang memikul salib Yesus ketika Yesus tak kuat lagi memikulnya akibat kerasnya siksaan , disebut Simon dari Kirene, mencatat nama dan tempat tinggalnya (Lukas 23:26). Ini membedakan dia dari semua Simon lainnya dan dari semua warga lain dari Kirene yang tidak bernama Simon. Meskipun Betlehem adalah tempat kelahiran Yesus, Nazaret adalah tempat di mana Yesus hidup sampai Dia memulai pelayanan publik-Nya, dan karena itu Ia disebut "dari Nazaret."
Matius 2:23 mengatakan bahwa Yusuf menetap bersama keluarganya di Nazaret-setelah kembali dari Mesir, tempat ia melarikan diri untuk melindungi Yesus dari Herodes- hal ini merupakan penggenapan "apa yang dikatakan oleh nabi-nabi: ‘ Dia akan disebut: Orang Nazaret. '" Kebanyakan komentator setuju bahwa nubuat-nubuat yang ditujukan untuk menghormati kedatangan Mesias adalah bahwa Mesias berasal dari tempat yang sederhana dan akan dihina dan dihindari orang (Yesaya 53; Mazmur 22) dan kalimat "ia akan disebut" memiliki arti yang sama dengan "Dia akan menjadi. " Maka ketika Matius mengatakan, bahwa nubuat-nubuat "telah digenapi”, maksudnya adalah bahwa nubuat para nabi bahwa Mesias akan direndahkan, dihina, dan akan ditolak, sepenuhnya telah digenapi dalam diri Yesus Kristus sebagai orang Nazaret.
Sebutan "Yesus dari Nazaret" pertama kali digunakan dalam Alkitab oleh Filipus yang setelah dipanggil oleh Yesus untuk mengikuti Dia, bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret." "(Yohanes 1:45). Dengan memanggil-Nya Yesus dari Nazaret, Phillip mungkin juga telah membuat pernyataan tentang kesederhanaan kelahiran-Nya. Karakter orang-orang Nazaret begitu rendahsehingga mereka direndahkan dan dihina. Tanggapan Natanael ketika mendengar pernyataan Filipus, "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" (Yohanes 1:46) menunjukkan hal ini. Seseorang yang berasal dari Nazaret atau orang Nazarene, berarti hina, rendah dan digolongkan sebagai kelahiran yang hina. Mesias yang akan datang untuk menyelamatkan umat-Nya akan menjadi "sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya" (Yesaya 53: 2). Dia akan “dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan." (Yesaya 53: 3).
Yesus dari Nazaret dilahirkan dan dibesarkan dalam keadaan yang begitu hina, tetapi dampak-Nya di dunia jauh lebih besar daripada siapapun yang pernah lahir sebelum atau setelah Dia. “Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” (Matius 1:21), Yesus Kristus, Mesias yang dijanjikan itu telah datang untuk suatu pencapaian yang hanya dapat dipenuhi/dilakukan oleh Allah yang menjadi manusia.
Sumber : GotQuestion.org
Arti Sebutan Yesus 'Anak Daud'
![]() |
| MESIAS, Anak Daud. Yeremia 23:5-6. |
"Apa artinya bahwa Yesus adalah Anak Daud?"
Tujuh belas ayat dalam Perjanjian Baru menggambarkan Yesus sebagai "Son of David" / "Anak Daud." Menimbulkan munculnya pertanyaan, "Bagaimana mungkin Yesus adalah anak Daud padahal Daud hidup sekitar 1.000 tahun sebelum Yesus?"
Jawabannya adalah bahwa Kristus (Mesias) adalah penggenapan nubuatan dari keturunan Daud (2 Samuel 7: 14-16). Yesus adalah Mesias yang dijanjikan, yang berarti Dia harus dari garis keturunan Daud. Matius 1 memberikan bukti silsilah Yesus, yang dalam kemanusiaan-Nya, adalah keturunan langsung dari Abraham dan Daud melalui Yusuf, ayah Yesus secara hukum karena menikah/suami dari Maria. Silsilah dalam Lukas pasal 3, menunjukan garis keturunan Yesus melalui ibuNya, Maria. Yesus adalah keturunan Daud oleh adopsi melalui Yusuf dan oleh darah melalui Maria. "Tentang Anak-Nya [Yesus Kristus], yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud," (Roma 1: 3).
Yang terpenting, gelar "Anak Daud" ini lebih dari sekedar pernyataan silsilah fisik. Ini merupakan gelar Mesianik. Ketika orang menyebut Yesus sebagai Anak Daud, mereka mengartikan bahwa Yesus adalah Penebus yang telah lama ditunggu-tunggu, yang merupakan penggenapan atas nubuat di dalam Perjanjian Lama.
![]() |
| Ada dua orang buta yang duduk di pinggir jalan mendengar, bahwa Yesus lewat, lalu mereka berseru: "Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami!" - Matius 20:30 |
Yesus disebut sebagai "Tuhan, Anak Daud" beberapa kali oleh orang-orang yang dengan iman sedang memohon belas kasihan atau kesembuhan kepadaNya. Seorang perempuan yang anak perempuannya sedang disiksa oleh setan (Matius 15:22) dan dua orang buta di tepi jalan (Matius 20:30) semua berseru meminta bantuan kepada Anak Daud. Gelar kehormatan yang mereka berikan kepada Yesus menyatakan iman mereka di dalam Dia. Memanggil Yesus "Tuhan", menyatakan kepercayaan mereka atas keilahian, otoritas, dan kuasa Yesus; dan memanggil Yesus "Anak Daud", menyatakan iman percaya mereka bahwa Yesus adalah Mesias.
Orang-orang Farisi mengerti persis apa arti yang dimaksudkan orang-orang itu ketika mereka menyebut Yesus "Anak Daud." Tetapi, tidak seperti orang-orang yang berseru memanggil Yesus di dalam iman, orang-orang Farisi begitu dibutakan oleh kecongkakan mereka sendiri sehingga mereka tidak dapat melihat apa yang dapat ‘dilihat’ oleh pengemis buta - bahwa Yesus inilah Mesias yang sebenarnya telah mereka tunggu sepanjang hidup mereka. Mereka membenci Yesus, karena Yesus tidak memberi mereka kehormatan yang mereka pikir layak untuk mereka dapatkan sebagai pemuka-pemuka agama, sehingga ketika mereka mendengar orang-orang memanggil Yesus sebagai Juruselamat, mereka menjadi sangat marah (Matius 21:15) dan berkomplot untuk menghancurkan Yesus (Lukas 19:47).
Selanjutnya Yesus membuat para ahli Taurat dan orang Farisi tercengang ketika Dia meminta mereka untuk menjelaskan tentang apa makna gelar ini: “Bagaimana mungkin Mesias adalah anak Daud ketika Daud sendiri mengacu kepada-Nya sebagai "Tuhanku"(Markus 12: 35-37; berdasarkan Mazmur 110:1)? Para ahli Taurat tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Yesus dalam hal ini menunjukan bahwa para pemimpin Yahudi itu guru-guru yang bodoh dan kurang pengetahuan akan apa yang diajarkan oleh Perjanjian Lama tentang hakekat sejati Mesias, hal ini makin membuat mereka menghindari Yesus.
Maksud Yesus ketika mengajukan pertanyaan berdasarkan Markus 12:35 adalah bahwa Mesias lebih dari sekedar anak Daud secara fisik. JikaMesias adalah Tuhanbagi Daud, maka Mesias harus lebih besar dari Daud. Seperti yang Yesus katakan dalam Wahyu 22:16, " Aku adalah tunas, yaitu keturunan Daud." Artinya, Yesus adalah Pencipta Daud dan Keturunan Daud. Hanya Anak Allah yang menjadi manusia yang dapat menyatakan perkataan ini.
Sumber : GotQuestions.org
Yesus Kristus 100% Allah, 100% Manusia
![]() |
| Yesus Kristus, Sepenuhnya Allah Sepenuhnya Manusia |
Bagaimana mungkin Yesus adalah Allah dan manusia pada saat bersamaan?
Penjelasan tentang Persatuan Pribadi / Hipostatik.
Hipostatik/persatuan pribadi adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan bagaimana Allah Putra, Yesus Kristus, mengambil rupa sebagai manusia, namun pada saat bersamaan, juga Allah yang sempurna.
Yesus selamanya adalah Allah (Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada." Yohanes 8:58; "Aku dan Bapa adalah satu." Yohanes 10:30), namun ketika inkarnasi, Yesus mengambil tubuh manusia – Dia menjadi manusia (Firman itu telah menjadi manusia. Yohanes 1:14). Penambahan natur kemanusiaan kepada natur keilahian menjadi Yesus; Allah-Manusia. Inilah Hipostatik/persatuan pribadi, Yesus Kristus sebagai satu Pribadi; Allah yang sempurna dan manusia yang sempurna.
Kedua natur Yesus, kemanusiaan dan keilahianNya, tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Yesus selamanya adalah Allah-Manusia; Allah yang sempurna dan manusia yang sempurna; dua natur/hakekat yang berbeda dalam satu Pribadi.
Kemanusiaan dan keillahian Yesus tidak bercampur, namun bersatu tanpa kehilangan keunikan identitas. Kadang Yesus berfungsi dengan keterbatasan sebagai manusia (Yohanes 4:6; 19:28), namun di waktu lain dengan kuasa keilahianNya (Yohanes 11:43; Matius 14:18-21). Dalam keduanya, tindakan-tindakan Yesus bersumber dari PribadiNya yang satu. Yesus memiliki dua natur/hakekat, namun tetap hanya satu Pribadi.
Doktrin Hipostatik/persatuan pribadi ini sebenarnya adalah upaya untuk menjelaskan bagaimana Yesus itu adalah Allah dan manusia pada saat bersamaan. Walaupun demikian, doktrin ini tentu tidak mampu dipahami manusia secara sempurna. Tidak mungkin manusia yang terbatas dan berdosa bisa memahami cara kerja Allah seutuhnya.
Kita, sebagai manusia yang terbatas, tidak bisa memahami Allah yang tidak terbatas. Yesus adalah Anak Allah dalam pengertian Dia dilahirkan dari Roh Kudus (Lukas 1:35). Namun, hal ini tidak berarti bahwa Yesus belum ada sebelum Dia dikandung. Yesus selalu ada di dalam kekekalan/ Dia kekal adanya (Yohanes 8:58, 10:30). Ketika Yesus dikandung, barulah Dia menjadi manusia, selain Dia tetap adalah Allah sendiri (Yohanes 1:1, 14).
Yesus adalah Allah dan manusia. Yesus senantiasa adalah Allah, namun Dia belum menjadi manusia sampai pada saat Dia dikandung di dalam diri Maria.
Yesus menjadi manusia agar Dia dapat mengidentifikasikan diri dengan kita manusia dalam kelemahan-kelemahan kita (Ibrani 2:17), dan yang lebih penting adalah agar Dia dapat mencurahkan darahNya dan dapat mati di salib untuk membayar hutang dosa kita ("Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!" Filipi 2:5-11).
Secara singkat, doktrin Hipostatik/persatuan pribadi mengajarkan bahwa Yesus adalah Allah dan manusia yang sempurna, bahwa tidak ada percampuran atau pengurangan dari salah satu natur/hakekat tersebut. Yesus adalah satu Pribadi selamanya.
Yesus selamanya adalah Allah (Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada." Yohanes 8:58; "Aku dan Bapa adalah satu." Yohanes 10:30), namun ketika inkarnasi, Yesus mengambil tubuh manusia – Dia menjadi manusia (Firman itu telah menjadi manusia. Yohanes 1:14). Penambahan natur kemanusiaan kepada natur keilahian menjadi Yesus; Allah-Manusia. Inilah Hipostatik/persatuan pribadi, Yesus Kristus sebagai satu Pribadi; Allah yang sempurna dan manusia yang sempurna.
Kedua natur Yesus, kemanusiaan dan keilahianNya, tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Yesus selamanya adalah Allah-Manusia; Allah yang sempurna dan manusia yang sempurna; dua natur/hakekat yang berbeda dalam satu Pribadi.
Kemanusiaan dan keillahian Yesus tidak bercampur, namun bersatu tanpa kehilangan keunikan identitas. Kadang Yesus berfungsi dengan keterbatasan sebagai manusia (Yohanes 4:6; 19:28), namun di waktu lain dengan kuasa keilahianNya (Yohanes 11:43; Matius 14:18-21). Dalam keduanya, tindakan-tindakan Yesus bersumber dari PribadiNya yang satu. Yesus memiliki dua natur/hakekat, namun tetap hanya satu Pribadi.
Doktrin Hipostatik/persatuan pribadi ini sebenarnya adalah upaya untuk menjelaskan bagaimana Yesus itu adalah Allah dan manusia pada saat bersamaan. Walaupun demikian, doktrin ini tentu tidak mampu dipahami manusia secara sempurna. Tidak mungkin manusia yang terbatas dan berdosa bisa memahami cara kerja Allah seutuhnya.
Kita, sebagai manusia yang terbatas, tidak bisa memahami Allah yang tidak terbatas. Yesus adalah Anak Allah dalam pengertian Dia dilahirkan dari Roh Kudus (Lukas 1:35). Namun, hal ini tidak berarti bahwa Yesus belum ada sebelum Dia dikandung. Yesus selalu ada di dalam kekekalan/ Dia kekal adanya (Yohanes 8:58, 10:30). Ketika Yesus dikandung, barulah Dia menjadi manusia, selain Dia tetap adalah Allah sendiri (Yohanes 1:1, 14).
Yesus adalah Allah dan manusia. Yesus senantiasa adalah Allah, namun Dia belum menjadi manusia sampai pada saat Dia dikandung di dalam diri Maria.
Yesus menjadi manusia agar Dia dapat mengidentifikasikan diri dengan kita manusia dalam kelemahan-kelemahan kita (Ibrani 2:17), dan yang lebih penting adalah agar Dia dapat mencurahkan darahNya dan dapat mati di salib untuk membayar hutang dosa kita ("Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!" Filipi 2:5-11).
Secara singkat, doktrin Hipostatik/persatuan pribadi mengajarkan bahwa Yesus adalah Allah dan manusia yang sempurna, bahwa tidak ada percampuran atau pengurangan dari salah satu natur/hakekat tersebut. Yesus adalah satu Pribadi selamanya.
Sumber: GotQuestions.org, GolgothaMinistry.org (Pdt.Budi Asali,M.Div).











Anak Domba Allah
Untuk memahami siapakah Kristus itu dan apa yang dikerjakanNya selama di dunia, kita harus memulai dari Perjanjian Lama yang mencatat nubuat mengenai kedatangan Kristus sebagai “korban penebus salah” (Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya.Yesaya 53:10).
Bahkan sebenarnya, seluruh sistem korban persembahan yang ditetapkan Allah didalam Perjanjian Lama adalah untuk mempersiapkan pentas kedatangan Yesus Kristus, yang nantinya akan menjadi korban yang sempurna, yang final, yang telah Allah persiapkan sebagai penebusan untuk dosa-dosa umatNya (Roma 8:3: Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging. ; lihat juga Ibrani 10).
Itulah yang dilakukan Allah ketika mengutus AnakNya Yesus Kristus untuk mati di salib. Kristus mati untuk menebus dosa, dan untuk membayar hukuman dosa semua orang yang percaya kepadaNya. Melalui kematianNya di atas salib sebagai korban yang sempurna untuk menebus dosa, dan kebangkitanNya tiga hari kemudian, maka manusia sekarang bisa memiliki hidup kekal melalui iman percaya kepadaNya.
Fakta bahwa Allah sendiri yang telah menyediakan korban yang menebus atau membayar dosa kita adalah bagian dari kabar baik yang mulia dari Injil yang begitu jelas dinyatakan dalam 1 Petrus 1:18-21 "Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir. Oleh Dialah kamu percaya kepada Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan yang telah memuliakan-Nya, sehingga imanmu dan pengharapanmu tertuju kepada Allah."