,

Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup_7 I Am_Seri 6



Kata Yesus kepadanya:  "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. 
Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa,  kalau tidak melalui Aku. (Yohanes 14:6)


Ayat 6:


1)   Ini adalah kalimat ke 6 menggunakan ‘I AM’.


2)   ‘Akulah jalan ... Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku’.

a)   Kata-kata ‘Akulah jalan’ menyebabkan Kekristenan sering disebut dengan istilah ‘jalan’ dalam Kitab Kisah Para Rasul (bandingkan dengan Kisah Para Rasul 9:2  19:9,23  24:14,22). Bandingkan juga dengan Ibrani 10:20 - “karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diriNya sendiri”.

b)   William Hendriksen: " 'I am the way.’ Jesus does not merely show the way; he is himself the way. It is true that he teaches the way (Mark 12:14; Luke 20:21), guides us in the way (Luke 1:79), and has dedicated for us a new and living way (Hebrew 10:20); but all this is possible only because he is himself the way” [= ‘Aku adalah jalan’. Yesus tidak semata-mata menunjukkan jalan itu; Ia sendiri adalah jalan itu. Adalah benar bahwa Ia mengajarkan jalan itu (Markus 12:14; Lukas 20:21), memimpin kita di dalam jalan itu (Lukas 1:79), dan telah memberikan kita jalan yang baru dan hidup (Ibrani 10:20); tetapi semua ini memungkinkan hanya karena Ia sendiri adalah jalan itu] - hal 267.

Dalam hal ini Yesus berbeda dengan semua pendiri agama lain. Mereka paling-paling hanya bisa menunjukkan jalan, tetapi mereka tidak pernah mengatakan: ‘Akulah jalan’.
Dan pada waktu mereka menunjukkan jalan, kita perlu mengingat kata-kata Kitab Suci: “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut” (Amsal 14:12).

c)   Ini menunjukkan bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan ke surga.



Yohanes 14:6 ini hanya mempunyai 3 kemungkinan:

  1. Kitab Sucinya salah. Yesus sebetulnya tidak pernah mengucapkan kata-kata ini.
  2. Kitab Sucinya benar. Yesus memang mengucapkan kata-kata ini, tetapi pada saat Yesus mengucapkan kata-kata ini, Ia tidak mengucapkan kebenaran. Dengan kata lain Yesus berdusta!
  3. Kitab Sucinya benar dan Yesusnya tidak berdusta. Jadi Ia memang adalah satu-satunya jalan ke surga.

Kalau saudara menerima salah satu dari 2 kemungkinan pertama, maka saudara seharusnya berhenti jadi orang Kristen. Adalah kegilaan kalau seseorang tetap menjadi orang Kristen padahal ia percaya Kitab Sucinya salah atau Yesusnya berdusta! 
Kalau saudara menolak 2 kemungkinan pertama itu, maka hanya kemungkinan terakhirlah yang menjadi pilihan saudara! Yesus adalah satu-satunya jalan ke surga!

Ayat ini jelas menentang:
a.   Universalisme, yaitu pandangan yang mengatakan bahwa pada akhirnya semua orang akan masuk surga.
b.   Pandangan yang mengatakan bahwa orang yang beragama lain tetap bisa masuk surga sekalipun tidak percaya kepada Yesus.


Berdasarkan ayat ini kita harus menyimpulkan bahwa bagaimanapun baiknya hidup seseorang, dan agama apapun yang ia anut, kalau ia tidak mempunyai Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka ia tetap akan pergi ke neraka. Mengapa? Karena ia tetap adalah orang berdosa, sehingga tanpa Penebus / Juruselamat dosa maka ia harus membayar sendiri hutang dosanya di dalam neraka.

Beberapa komentar tentang Yesus sebagai satu-satunya jalan: 
·        Barnes’ Notes: “To come to the Father is to obtain his favour, to have access to his throne by prayer, and finally to enter his kingdom. No man can obtain any of these except by the merits of the Lord Jesus Christ. By coming by him is meant coming in his name, and depending on his merits. ... We are sinful, and it is only by his merits that we can be pardoned. ... God has appointed him as the Mediator, and has ordained that all blessings shall descend to this world through him” (= Datang kepada Bapa adalah mendapatkan perkenanNya, mendapatkan jalan masuk ke tahtaNya melalui doa, dan akhirnya memasuki kerajaanNya. Tidak seorangpun bisa mendapatkan hal-hal ini kecuali oleh jasa Tuhan Yesus Kristus. Yang dimaksud dengan datang melaluiNya adalah datang dalam namaNya, dan bergantung / bersandar pada jasaNya. ... Kita adalah orang berdosa dan hanya oleh jasaNya kita bisa diampuni. ... Allah telah menetapkanNya sebagai Pengantara, dan telah menentukan bahwa semua berkat akan turun kepada dunia ini melalui Dia) - hal 333.

Catatan: Jelas bahwa yang ditekankan dalam Yohanes 14:6 ini adalah persoalan masuk surga, karena kontex (ayat 2-4) membicarakan rumah Bapa / surga. Jadi bagian secara jelas menunjukkan bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan ke surga (bandingkan dengan Kisah Para Rasul 4:12 ; 1Yohanes 5:11-12). Siapapun yang menafsirkan bahwa bagian ini tidak menunjukkan bahwa orang beragama lain tidak bisa masuk surga, adalah orang kurang ajar / nabi palsu, yang telah memutar-balikkan Kitab Suci (bandingkan dengan 2Petrus 3:16). Contoh: orang-orang Liberal mengatakan bahwa Yohanes 14:6 ini hanya berlaku untuk orang kristen. Ini membuat kata-kata Yesus ini menjadi tidak ada artinya / kehilangan maknanya sama sekali. Apa gunanya kata-kataNya ini kalau itu hanya berlaku untuk orang kristen
Tetapi sekalipun penekanan Yohanes 14:6 ini adalah dalam persoalan masuk surga, jelas bahwa:
  • kita bisa berkenan pada Bapa, juga hanya kalau kita menerima jasa penebusan Yesus melalui iman (Yohanes 3:36 ; Ibrani 11:6).
  • pada waktu kita berdoa, Yesus juga adalah satu-satunya jalan / pengantara kepada Bapa. Karena itulah kita berdoa ‘dalam nama Yesus’ (Yohanes 14:13-14  Yohanes 16:23-24  bandingkan dengan Ibrani 10:19-22).
·        Calvin: “men contrive for themselves true labyrinth, whenever, after having forsaken Christ, they attempt to come to God. ... Wherefore all theology, when separated from Christ, is not only vain and confused, but is also mad, deceitful, and spurious” (= manusia mengusahakan / membuat bagi diri mereka sendiri suatu susunan yang membingungkan, pada waktu, setelah meninggalkan Kristus, mereka berusaha untuk datang kepada Allah. ... Karena itu semua theologia, pada waktu dipisahkan dari Kristus, bukan hanya sia-sia dan kacau, tetapi juga gila, bersifat penipu, dan palsu) - hal 85. 
Calvin: “it is a foolish and pernicious curiosity, when men, not satisfied with him, attempt to go to God by indirect and crooked path” (= merupakan keingintahuan yang bodoh dan jahat, pada waktu manusia, tidak puas dengan Dia, berusaha untuk pergi kepada Allah melalui jalan yang tidak langsung dan bengkok / berliku-liku) - hal 86.

·        Charles Haddon Spurgeon: “There is no getting to God except through Christ. Those who say that we can go to heaven without a Mediator know not what they say, or say what they know to be false. There can be no acceptable approach to the Father except by Jesus Christ the Son” (= Tidak ada yang sampai kepada Allah kecuali melalui Kristus. Mereka yang berkata bahwa kita dapat pergi ke surga tanpa seorang Pengantara tidak tahu apa yang mereka katakan, atau mengatakan apa yang mereka tahu sebagai sesuatu yang salah. Tidak ada tindakan mendekat kepada Bapa yang bisa diterima kecuali oleh Yesus Kristus sang Anak) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 8, hal 67.

·        Pulpit Commentary: “Those who want to be with Jesus hereafter must be with him here. And those who want to be with the Father hereafter, having knowledge of him, and receiving of his fulness, can only gain this through Jesus. There is no other name given whereby men are to be saved” (= Mereka yang ingin bersama dengan Yesus di alam baka harus bersama dengan Dia di sini. Dan mereka yang ingin bersama dengan Bapa di alam baka, mengenal Dia dan menerima kepenuhanNya, hanya bisa men-dapatkan ini melalui Yesus. Tidak ada nama lain yang diberikan dengan mana manusia bisa diselamatkan) - hal 261.

·        A. T. Robertson: “There is no use for the Christian to wince at these words of Jesus. If he is really the Incarnate Son of God (1:1,14,18), they are necessarily true” [= Tidak ada gunanya bagi orang Kristen untuk berbalik / mundur pada kata-kata Yesus ini. Jika Ia betul-betul adalah Anak Allah yang berinkarnasi (1:1,14,18), kata-kataNya itu pasti benar] - hal 250.

·        F. F. Bruce: “he is himself the way to the Father. He is, in fact, the only way by which men and women may come to the Father; there is no other way. If this seems offensively exclusive, let it he borne in mind that the one who makes this claim is the incarnate Word, the revealer of the Father” (= Ia sendiri adalah jalan kepada Bapa. Dalam faktanya Ia adalah satu-satunya jalan dengan mana orang laki-laki dan perempuan bisa datang kepada Bapa; tidak ada jalan yang lain. Jika ini kelihatannya bersifat exklusif dan menghina, baiklah dicamkan bahwa yang membuat pernyataan ini adalah Firman yang berinkarnasi, yang menyatakan Bapa) - hal 298.


d)   Karena ayat ini mengajarkan Kristus sebagai satu-satunya jalan ke surga, maka konsekwensinya adalah: orang Kristen harus memberitakan Injil, supaya orang-orang di sekitarnya bisa percaya kepada Yesus dan diselamatkan (bandingkan dengan Roma 10:13-15).


3)   ‘Akulah ... kebenaran’.

a)   Yesus adalah kebenaran.
Pulpit Commentary: “it is observable that Jesus does not say, ‘I teach the truth;’ he says, ‘I am the Truth.’” (= perlu diperhatikan bahwa Yesus tidak berkata: ‘Aku mengajarkan kebenaran’; Ia berkata: ‘Aku adalah kebenaran’) - hal 239.

Catatan: Yesus memang pernah berkata: Aku mengatakan kebenaran (Yohanes 8:40,45,46). Tetapi perlu diingat bahwa Ia bukan hanya mengatakan kebenaran, tetapi Ia sendiri adalah kebenaran.
Ini sama seperti Roh Kudus, yang sekalipun dikatakan menginsyafkan dunia akan kebenaran (Yohanes 16:8), memimpin orang ke dalam kebenaran (Yohanes 16:13), tetapi juga disebut sebagai Roh Kebenaran (Yohanes 14:17  15:26  16:13).

b)   Bahwa Yesus adalah kebenaran, menjamin bahwa kata-kataNya yang menyatakan diriNya sebagai satu-satunya jalan ke surga, adalah benar!


4)   ‘Akulah ... hidup’.
Pulpit Commentary: “if we truly have Jesus, whatever we may lack, we shall not lack life” (= jika kita betul-betul mempunyai Yesus, dalam hal apapun kita kekurangan, kita tidak akan kekurangan hidup / kehidupan) - hal 261.


5)   ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku’.

a)   Kata-kata ini kelihatannya menggelikan / merupakan kebodohan. Mengapa?
Leon Morris (NICNT): “‘I am the Way’, said One who would shortly hang impotent on the cross. ‘I am the Truth’, when the lies of evil men were about to enjoy a spectacular triumph. ‘I am the Life’, when within a few hours His corpse would be placed in a tomb” (= ‘Akulah jalan’, kata Orang yang sebentar lagi tergantung tak berdaya pada salib. ‘Akulah kebenaran’, pada waktu dusta orang-orang jahat akan menikmati kemenangan yang spektakuler. ‘Akulah hidup’, pada saat dalam beberapa jam lagi mayatNya akan diletakkan dalam sebuah kubur) - hal 641.
Memang Injil adalah ‘kebodohan’, tetapi “Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil” (1Korintus 1:21b)!


b)   Kata-kata ini harus kita tanggapi



Ada kata-kata indah yang berbunyi sebagai berikut:
You call Me the way but you do not follow Me, (= Engkau menyebutKu jalan tetapi engkau tidak mengikutKu,)
You call Me the light but you do not see Me, (= Engkau menyebutKu terang tetapi engkau tidak melihatKu,)
You call Me the teacher but you do not listen to Me, (= Engkau menyebutKu guru tetapi engkau tidak mendengarkanKu,)
You call Me the Lord but you do not serve Me, (= Engkau menyebutKu Tuhan tetapi engkau tidak melayaniKu,)
You call Me the truth but you do not believe in Me, (= Engkau menyebutKu kebenaran tetapi engkau tidak percaya kepadaKu,)
Do not be surprised if one day I don’t know you. (= Janganlah terkejut jika suatu hari Aku tidak mengenal kamu.)




Sumber : Golgotha Ministry, Eksposisi Injil Yohanes oleh Pdt. Budi Asali, M.Div.


 

,

Akulah Kebangkitan dan Hidup_7 I Am_Seri 5



Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup;  barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,   (Yohanes 11:25)


Ayat 25-26: 
1)   Ini adalah kata-kata ‘I am’ yang ke 5 yang diucapkan Yesus, karena di sini Ia berkata ‘I am the resurrection and the life’ (= Akulah kebangkitan dan hidup).


2)   ‘Akulah kebangkitan dan hidup’ mempunyai arti jasmani, karena kalau tidak ada arti jasmani, maka ayat 25-26 ini tidak akan cocok dengan jalur ceritanya. Jadi, karena Yesus adalah ‘kebangkitan dan hidup’, Ia bisa membangkitkan secara jasmani, baik pada akhir jaman nanti seperti yang dipercaya oleh Marta (ayat 24), maupun pada saat itu juga, dan ini Ia buktikan dengan membangkitkan Lazarus secara jasmani.



3)   Tetapi jelasbahwa pada waktu Yesus menyatakan diriNya sebagai ‘kebangkitan dan hidup’, Ia juga memaksudkannya secara rohani.

Macam-macam penafsiran:

a)   William Hendriksen:
·        Yesus = kebangkitan ® yang percaya akan hidup (rohani) walaupun sudahmati (jasmani). Yang sudah mati ini misalnya Lazarus sendiri. Biarpun sudah mati secara jasmani, tetapi karena ia orang percaya, ia hidup secara rohani.
·        Yesus = hidup ® yang hidup (rohani) dan percaya kepada Yesus, tidak akan mati (rohani).

b)   Ayat 25: orang yang percaya akan hidup (secara rohani), tetapi ia tidak akan terhindar dari kematian jasmani (jadi maksudnya orang percaya itu tetap akanmengalami kematian jasmani).
Ini lalu disambung dengan ayat 26 yang artinya: orang yang hidup (secara rohani) dan yang percaya kepada Yesus, tidak akan mati selama-lamanya (secara rohani).

Catatan: ‘walaupun ia sudah mati’ (ayat 25 akhir) sebetulnya salah terjemahan. NIV: ‘even though he dies’ (= walaupun ia mati).

c)   Ayat 25 menunjuk kepada orang percaya yang sudah mati (secara jasmani). Sekalipun ia sudah mati (secara jasmani), tetapi ia tetap hidup (secara rohani).
Ini lalu disambung dengan ayat 26 yang artinya: orang percaya yang masih hidup (secara jasmani), tidak akan mati selama-lamanya (secara rohani).

d)   Ayat 25: yang percaya kepada Yesus akan hidup (secara rohani) walaupun ia mati (secara rohani).
Dan ayat 26: orang yang hidup secara rohani dan yang percaya kepada Yesus tidak akan mati selama-lamanya (secara rohani).
Kalau diambil arti point d ini perlu dicamkan, bahwa orang yang mati rohani tidak bisa percaya sendiri kepada Yesus sehingga menghidupkan dirinya sendiri, karena kalau ini bisa dilakukan, lalu apa fungsi Yesus sebagai ‘kebangkitan dan hidup’? Karena itu kalau mau diambil arti ini, maka harus ditambahkan bahwa orangnya bisa percaya karena pekerjaan Yesus, yang melalui Roh KudusNya, melahir-barukan orang itu, sehingga orang itu bisa percaya.


4)   Kata-kata ‘tidak akan mati selama-lamanya’ tidak bisa tidak, harus diartikan secara rohani, dan ini menunjukkan bahwa orang yang percaya kepada Yesus tidak bisa kehilangan keselamatannya.


Sumber : Golgotha Ministry, Eksposisi Injil Yohanes oleh Pdt. Budi Asali, M.Div.

 

,

Akulah Gembala yang Baik_7 I Am_Seri 4

Image credit : Christ, the Lord is my Shepherd by Simon Dewey


Akulah gembala yang baik. Gembalayang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya;  (Yohanes  10:11)


Ayat 11-15:

1)   Ayat 11a: ‘Akulah gembala yang baik’ (bandingkan dengan ayat 14a: Akulah gembala yang baik ).

a)   Ayat-ayat Perjanjian Baru yang lain yang menunjukkan Yesus sebagai gembala adalah Matius 18:12 / Lukas 15:4;  Matius 9:36 / Markus 6:34 ; Lukas 12:32 ; Matius 26:31 / Markus 14:27 ; 1Petrus 2:25 ; Ibrani 13:20. Jadi jelas bahwa baik Yesus sendiri maupun Perjanjian Baru memang menekankan Yesus sebagai Gembala.

b)   Dalam Perjanjian Lama, Allah / Yahweh-lah yang adalah gembala (bandingkan dengan Mazmur 23:1;  Mazmur 79:13;  Mazmur 80:2;  Mazmur 95:7 ; Yehezkiel 34:15). Sekarang Yesus mengclaimdiriNya sebagai gembala, dan itu sama dengan mengclaim diri sebagai Allah.
Lebih-lebih kalimat ini merupakan salah satu dari 7 ‘I am’ dalam Injil Yohanes. Ini mengingatkan kita pada kata-kata ‘I am who I am’ (= Aku adalah Aku) yang dipakai oleh YAHWEH / Allah untuk memperkenalkan diriNya kepada Musa dalam Keluaran 3:14.

c)   Sekalipun Yesus adalah gembala, Ia juga mengangkat manusia sebagai gembala (bandingkan dengan Efesus 4:11 ; Kisah Para Rasul 20:28 ; Yohanes 21:15-19 ; 1Petrus 5:2-3).
·        Ini bertentangan dengan ajaran Gereja Sidang Jemaat Kristus, yang menentang adanya gembala.
·        Ini menunjukkan bahwa Pendeta dan majelis (bukan Pendeta saja) harus menggembalakan jemaat:
  • memberi makan firman Tuhan.
  • menjaga dan membentengi terhadap ajaran sesat.
  • mengawasi kerohanian / pertumbuhan rohani jemaat.
  • mencari yang hilang.
  • menguatkan / menghiburkan yang lemah, dan sebagainya.
·        Pendeta / majelis harus selalu ingat bahwa gembala yang sesungguhnya bukanlah mereka tetapi Tuhan Yesus. Bandingkan dengan Matius 23:8-10  Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. - jangan mau disebut rabi, bapa, pemimpin. Ini tentu tak boleh diartikan bahwa kita betul-betul tidak boleh menyebut guru sebagai guru, bapa sebagai bapa, dan sebagainya. Maksudnya kita harus tetap menyadari bahwa Guru, Bapa dan Pemimpin yang sebenarnya adalah Tuhan sendiri.

Calvin: “... when the term shepherd is applied to men, it is used, as we say, in a subordinate sense; and Christ shares the honour with his ministers in such a manner, that he still continues to be the only shepherd both of themselves and of the whole flock” (= ... pada waktu istilah gembala digunakan terhadap manusia, istilah itu digunakan, seperti kami katakan, dalam pengertian yang lebih rendah; dan Kristus membagikan kehormatan dengan pelayan-pelayanNya dengan cara sedemikian rupa, sehingga Ia tetap menjadi gembala satu-satunya baik bagi mereka maupun bagi seluruh kawanan).

Penerapan:
Jangan pernah berkata: ‘Dombakudicuri’, karena semua orang Kristen adalah domba Tuhan, bukan dombanya pendeta.

d)   Penggambaran Yesus sebagai pintu (ayat 7,9), maupun penggambaran Yesus sebagai gembala (ayat 11,14), sama-sama berhubungan dengan keselamatan. Sebagai pintu, Yesus merupakan satu-satunya jalan masuk pada keselamatan; sebagai gembala, Yesus menyerahkan nyawaNya untuk domba-dombaNya.


 
2)   Ayat 11b: ‘Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya’ (bandingkan dengan ayat 15b: Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.).

a)   Seorang gembala memang mencintai dombanya dan rela berkorban untuk dombanya (bandingkan dengan 1Samuel 17:34-36 ; Yesaya 31:4). Tetapi dalam hal ini ada perbedaan antara Yesus (realita) dan gembala (yang hanya merupakan penggambaran):
·        kalau gembala mati untuk dombanya, itu bukan kesengajaan. Tetapi Yesus mati untuk kita secara sengaja / sukarela.
·        kalau gembala mati, itu merupakan bencana bagi domba-dombaNya. Tetapi pada waktu Yesus mati untuk kita, itu merupakan kehidupan bagi kita.

b)   Ayat ini merupakan salah satu dasar dari doktrin Limited Atonement (= Penebusan terbatas) dalam Calvinisme / Reformed, karena di sini dikatakan bahwa gembala / Yesus memberikan nyawaNya bagi domba-dombanya (tidak dikatakan bagi semua orang). Memang dalam Kitab Suci ada ayat-ayat yang seolah-olah menunjukkan bahwa Yesus mati bagi semua orang. Tetapi harus diingat bahwa istilah ‘semua orang’ dalam Kitab Suci tidak selalu betul-betul berarti ‘semua orang’. Misalnya: Roma 5:18b,  Mazmur 22:28.


3)   Ayat 12-13: sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu.

a)   Pada saat menyatakan diriNya sebagai pintu, Yesus menggambarkan mereka yang tidak melalui pintu sebagai pencuri dan perampok (ayat 1,7-8). Sekarang pada waktu menyatakan diriNya sebagai gembala, Yesus mengkontraskan diriNya dengan ‘orang upahan’. Ada persamaan antara ‘pencuri / perampok’ dengan ‘orang upahan’, yaitu:
·        sama-sama tidak peduli / mengasihi domba.
·        sama-sama mencari kepentingan diri sendiri.

Penerapan:
Kalau saudara adalah seorang pendeta, majelis, ataupun guru sekolah minggu, maka saudara perlu merenungkan apakah 2 hal jelek ini ada pada diri saudara atau tidak. Kalau ada, saudara adalah seorang upahan, bukan gembala!

b)   ‘Orang upahan’ di sini seperti gembala-gembala jahat dalam Yeremia 23:1-dan seterusnya;  Yehezkiel 34:1-2 ;  Zakharia 11:17.

c)   William Barclay berkata bahwa gereja diserang dari luar oleh serigala, dan dari dalam oleh orang upahan.
Dan Calvin berkata:
“No plague is more destructive to the Church, than when wolves ravage under the garb of shepherds” (= Tidak ada wabah yang lebih merusak dari pada serigala yang merusak dibawah pakaian gembala).

Penerapan:
Karena itu gereja harus extra hati-hati dalam memilih hamba Tuhan.


4)   Ayat 14-15: Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.
Gembala (Yesus) dan domba (orang percaya) saling kenal. Orang yang tidak kenal Yesus juga tidak dikenal oleh Yesus. Yang penting bukanlah apakah saudara dikenal orang / majelis / Pendeta, tetapi apakah saudara dikenal oleh Kristus (bandingkan dengan Matius 7:21-23 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!").





Ayat 16-18:

1)   Ayat 16: Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.

a)   ‘domba-domba yang lain, yang bukan dari kandang ini’.
Kata-kata ‘bukan dari kandang ini’ menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang non Yahudi yang pada saat itu belum percaya. Tetapi mereka sudah disebut sebagai ‘domba’! Bandingkan dengan Kisah Para Rasul 18:10dimana orang yang belum percaya sudah disebut ‘umatKu’.
Ini jelas menunjukkan bahwa mereka adalah orang pilihan!

Calvin: “Thus, according to the secret election of God, we are already sheep in his heart, before we are born; but we begin to be sheep in ourselves by the calling, by which he gathers us into his fold” (= Jadi, menurut pemilihan yang rahasia dari Allah, kita sudah adalah domba dalam hatiNya, sebelum kita dilahirkan, tetapi kita mulai menjadi domba dalam diri kita oleh panggilan, dengan mana Ia mengumpulkan kita dalam kandangNya).

b)   Perhatikan kata-kata Yesus selanjutnya tentang ‘domba-domba yang lain’ dalam ayat 16 ini:
·        ‘harus Kutuntun juga’.
·        ‘mereka akan mendengarkan suaraKu’.
·        ‘mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala’.

Semua ini menunjukkan bahwa orang pilihan pasti akan bertobat / percaya kepada Yesus. Ini menjadi dasar bagi kita untuk mengatakan 2 hal:
¨      Predestinasi / Rencana Allah tidak mungkin gagal.
¨      Kasih karunia Allah tidak bisa ditolak (Irresistible grace)!

c)   Yesus menugaskan / memakai kita untuk menuntun domba-domba lain itu kepadaNya. Kita melaksanakan tugas ini dengan memberitakan Injil. Karena kita tidak bisa tahu yang mana yang orang pilihan (elect) dan yang mana yang bukan (reprobate), maka kita harus memberitakan Injil kepada semua orang! Ajaran Calvinisme / Reformed yang sejati, sekalipun percaya pada Predestinasi, sama sekali tidak boleh menyebabkan kita malas dalam memberitakan Injil! Orang yang mengaku diri sebagai Reformed / Calvinist, tetapi tidak memberitakan Injil / tidak menekankan pentingnya Pemberitaan Injil, bukanlah orang Reformed / Calvinist yang sejati!

d)   ‘satu kawanan dengan satu gembala’.
Ini menunjuk pada ‘Gereja yang Kudus dan Am’ dalam 12 Pengakuan Iman Rasuli.

e)   Calvin menyoroti kata-kata: ‘mereka akan mendengarkan suaraKu dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala’, dan memberi komentar: hanya kalau gereja betul-betul memberitakan Firman Tuhan, dan tunduk pada Firman Tuhan, barulah bisa ada keteraturan.

Penerapan:
Kalau mau mempunyai gereja yang benar, belajarlah Firman Tuhan, dan taatlah pada Firman Tuhan.


2)  Ayat 17-18: Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.

a)   Ayat 17: Ini tentu bukan merupakan satu-satunya alasan mengapa Bapa mengasihi Yesus.
Calvin mengatakan bahwa ada alasan yang lebih tinggi mengapa Bapa mengasihi Yesus, yaitu karena Yesus adalah Anak (Matius 3:17 ; Matius 17:5).

b)   Dua hal yang ditekankan di sini, yaitu: 
·        Pengorbanan nyawa itu dilakukan oleh Yesus dengan rela, bukan dengan terpaksa!

Penerapan: kalau saudara memberi persembahan, atau melayani Tuhan, atau melakukan sesuatu untuk Tuhan yang menuntut pengorbanan, apakah saudara melakukannya dengan rela atau dengan terpaksa? 
William Barclay menceritakan suatu cerita sebagai illustrasi tentang ‘kerelaan berkorban’:
Dalam Perang Dunia pertama ada tentara Perancis yang terluka pada tangannya sehingga harus diamputasi. Pada saat ia sadar, ahli bedah mengatakan: ‘Dengan menyesal aku memberitahumu bahwa engkau telah kehilangan sebuah lengan’. Tetapi tentara itu menjawab: ‘Tuan, aku tidak kehilangan lenganku, aku memberikannya, untuk Perancis!’

·        Yesus (realita) berbeda atau lebih tinggi dari gembala (gambarannya) dalam hal: Yesus menyerahkan nyawaNya untuk menerimanya kembali (bandingkan dengan Yohanes 10:17-18). Ini tidak bisa dilakukan oleh gembala biasa.


Sumber : Golgotha Ministry, Eksposisi Injil Yohanes oleh Pdt. Budi Asali, M. Div.