2 Hal Tentang Mengapa Yesus disebut Anak Manusia
Mengenal pribadi Yesus Kristus, satu-satunya pribadi yang agung yang pernah hidup di muka bumi ini. Setelah melihat keilahian Yesus, sekarang kita melanjutkan pembahasan tentang kemanusiaan Yesus.
Apakah artinya Yesus 'Anak Manusia'?
Bukankah Alkitab mengatakan bahwa Yesus itu Anak Allah? Kalau begitu bagaimana mungkin Yesus juga Anak Manusia?
Inilah 2 arti tentang sebutan Yesus "Anak Manusia" :
1
Bukankah Alkitab mengatakan bahwa Yesus itu Anak Allah? Kalau begitu bagaimana mungkin Yesus juga Anak Manusia?
Inilah 2 arti tentang sebutan Yesus "Anak Manusia" :
1
Arti pertama dari frasa “Anak Manusia” merujuk pada nubuat dalam Daniel 7:13-14,
“Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah.”
Gambaran “Anak Manusia“ di sini adalah gelar Mesianis. Yesus dirujuk sebagai Seorang yang diberi kekuasaan, kemuliaan dan kerajaan. Ketika Yesus menggunakan gelar ini untuk diriNya sendiri, Dia menerapkan nubuat “Anak Manusia” pada diriNya sendiri. Orang-orang Yahudi pada jaman itu sangat mengenal sebutan tersebut dan kepada siapa sebutan itu merujuk. Jadi, dengan menyatakan diri menggunakan gelar Anak Manusia pada diriNya, Yesus memperkenalkan diriNya sebagai Mesias.
2
Arti kedua dari frasa “Anak Manusia” adalah bahwa Yesus adalah manusia sejati. Allah memanggil nabi Yehezkiel sebagai “anak manusia” sebanyak 93 kali. Sewaktu Allah menyebut Yehezkiel 'anak manusia' Allah menyebut Yehezkiel manusia. Jadi Anak manusia berarti seorang manusia.
Yesus adalah Allah yang sempurna (Yohanes 1:1), namun Dia juga adalah manusia (Yohanes 1:14).
Melalui 1 Yohanes 4:2 menyatakan kepada kita, “Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang dalam daging (sebagai manusia), berasal dari Allah.”
Ya, Yesus adalah Anak Allah – pada esensinya Dia adalah Allah yang sejati.
Ya, Yesus juga adalah Anak Manusia – pada esensinya Dia adalah seorang manusia yang sejati.
Secara ringkas, sebutan “Anak Manusia” mengindikasikan bahwa Yesus adalah Mesias, dan juga menekankan bahwa Dia adalah manusia sejati.
Melalui 1 Yohanes 4:2 menyatakan kepada kita, “Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang dalam daging (sebagai manusia), berasal dari Allah.”
Ya, Yesus adalah Anak Allah – pada esensinya Dia adalah Allah yang sejati.
Ya, Yesus juga adalah Anak Manusia – pada esensinya Dia adalah seorang manusia yang sejati.
Secara ringkas, sebutan “Anak Manusia” mengindikasikan bahwa Yesus adalah Mesias, dan juga menekankan bahwa Dia adalah manusia sejati.
Sumber: GotQuestions.org, DesiringGod.org
4 Hal tentang Pentingnya Kemanusiaan Yesus
Setelah memaparkan keilahian Yesus, marilah sekarang kita melihat kemanusiaan Yesus.
"Mengapa kemanusiaan Yesus penting?"
Kemanusiaan Yesus adalah sama pentingnya dengan keilahian Yesus. Yesus lahir sebagai manusia ketika masih benar-benar ilahi. Konsep kemanusiaan Yesus yang berada bersamaan dengan keilahian-Nya sulit dipahami pikiran manusia yang terbatas. Namun demikian, hakekat Yesus adalah sepenuhnya manusia dan sepenuhnya Allah-merupakan sebuah fakta yang Alkitabiah. Ada orang-orang yang menolak kebenaran-kebenaran Alkitab dan menyatakan bahwa Yesus adalah manusia biasa, tapi bukan Tuhan. Pandangan lainnya menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan, tapi bukan manusia. Kedua pandangan ini salah dan tidak Alkitabiah.
1
Yesus harus dilahirkan sebagai manusia karena beberapa alasan. Salah satu alasan diuraikan didalam Galatia 4: 4-5: “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak." Hanya seorang manusia dapat "lahir di bawah hukum”. Tidak ada hewan atau malaikat yang "berada di bawah hukum." Hanya manusia yang 'lahir di bawah hukum', dan hanya seorang manusia yang bisa menebus manusia lain yang lahir di bawah hukum yang sama. Manusia lahir di bawah hukum Allah, dan semua manusia telah bersalah melanggar hukum Allah itu. Hanya Manusia_Allah yaitu Yesus Kristus - yang sempurna dan yang tidak berdosa– yang secara sempurna dapat menjaga hukum dan dengan sempurna memenuhi hukum, sehingga dapat menebus kita dari kutukan dosa. Yesus telah menyelesaikan penebusan kita di kayu salib, dosa-dosa kita ditimpakan kepadaNya, agar kita dapat dibenarkan (Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah. 2 Korintus 5:21).
2
2
Alasan lain Yesus harus menjadi manusia sepenuhnya adalah bahwa Allah menetapkan perlunya penumpahan darah untuk pengampunan dosa (Imamat 17:11; Ibrani 9:22). Darah hewan, meskipun diterima secara sementara sebagai bayangan dari darah sempurna Manusia_Allah, tidak cukup untuk pengampunan dosa secara permanen "Sebab tidak mungkin darah lembu atau darah kambing menghapuskan dosa." ( Ibrani 10: 4). Yesus Kristus, Anak Domba Allah yang sempurna, telah mengorbankan kehidupan manusia-Nya dan menumpahkan darah manusia-Nya untuk menutupi dosa-dosa semua manusia yang percaya kepadaNya. Jika Yesus tidak lahir/datang sebagai manusia, maka hal ini tidak mungkin dapat terjadi.
3
Selanjutnya, kemanusiaan Yesus memungkinkan Dia untuk bersimpati/memahami keberadaan manusia dengan yang tidak pernah dapat dilakukan malaikat maupun hewan. "Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa." (Ibrani 4:15). Hanya manusia yang dapat memahami/bersimpati kelemahan-kelemahan manusia dan godaan-godaan yang dihadapi manusia. Jadi didalam kemanusiaan-Nya, Yesus menjadi sasaran semua jenis cobaan yang kita hadapi, dan karena itu, Dia dapat bersimpati dengan kita dan untuk dapat membantu kita. Dia telah dicobai; Dia telah dianiaya; Dia miskin; Dia telah sangat dihina; Dia telah menderita kesakitan fisik; dan Dia telah mengalami kengerian penderitaan dan kematian yang paling kejam. Hanya manusia yang dapat mengalami hal-hal ini, karena itulah maka Allah datang sebagai manusia dalam diri Yesus Kristus.
Selanjutnya, kemanusiaan Yesus memungkinkan Dia untuk bersimpati/memahami keberadaan manusia dengan yang tidak pernah dapat dilakukan malaikat maupun hewan. "Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa." (Ibrani 4:15). Hanya manusia yang dapat memahami/bersimpati kelemahan-kelemahan manusia dan godaan-godaan yang dihadapi manusia. Jadi didalam kemanusiaan-Nya, Yesus menjadi sasaran semua jenis cobaan yang kita hadapi, dan karena itu, Dia dapat bersimpati dengan kita dan untuk dapat membantu kita. Dia telah dicobai; Dia telah dianiaya; Dia miskin; Dia telah sangat dihina; Dia telah menderita kesakitan fisik; dan Dia telah mengalami kengerian penderitaan dan kematian yang paling kejam. Hanya manusia yang dapat mengalami hal-hal ini, karena itulah maka Allah datang sebagai manusia dalam diri Yesus Kristus.
4
Akhirnya, adalah penting bahwa Yesus harus menjadi manusia karena kebenaran yang merupakan prasyarat untuk keselamatan. Menyatakan bahwa Yesus telah datang dalam daging (menjadi manusia) merupakan tanda roh yang dari Tuhan, sementara antikristus dan semua pengikutnya akan menyangkali Yesus. ("Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia."1 Yohanes 4: 2-3).
Yesus telah datang menjadi manusia; Dia mampu bersimpati dengan kelemahan-kelemahan manusia; Darah manusia-Nya telah ditumpahkan untuk dosa-dosa kita; dan Dia adalah sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia.
Ini adalah kebenaran Alkitab yang tidak bisa dipungkiri.
Sumber : GotQuestions.org
Yesus adalah Allah yang menjadi Manusia
Sejak pembuahan janin Yesus oleh Roh Kudus didalam rahim perawan Maria (Lukas 1: 26-38), identitas Yesus Kristus yang sebenarnya selalu dipertanyakan oleh orang-orang yang tidak percaya/skeptis. Ini dimulai dengan tunangan Maria sendiri, Yusuf, yang takut untuk menikahi Maria ketika Maria mengungkapkan bahwa dirinya hamil (Matius 1: 18-24). Yusuf baru mengambil Maria sebagai istrinya setelah malaikat menegaskan kepada Yusuf bahwa anak yang dikandung Mariaadalah Anak Allah.
Ratusan tahun sebelum kelahiran Kristus, nabi Yesaya telah menubuatkan kedatangan Anak Allah: “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” (Yesaya 9: 6). Ketika malaikat itu berbicara kepada Yusuf dan mengumumkan kelahiran yang akan datang dari Yesus, ia mengutip nubuat nabi Yesaya: “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel --yang berarti: Allah menyertai kita.” (Matius 1:23). Ini bukan berarti mereka harus menamakan sang bayi: Immanuel; kutipan ayat ini dinyatakan untuk memberitahukan bahwa "Allah beserta kita" adalah identitas sang bayi. Yesus Tuhan datang sebagai manusia untuk tinggal dengan manusia.
Yesus sendiri memahami spekulasi tentang identitas-Nya. Dia pernah bertanya kepada para murid-Nya, "Kata orang, siapakah Aku ini?" (Matius 16:13; Markus 8:27). Jawaban mereka bervariasi, sebagaimana jawaban orang-orang pada masa kini jika ditanyai pertanyaan yang sama. Lalu Yesus menanyakan pertanyaan yang lebih mendesak: "Menurutmu siapakah Aku?" (Matius 16:15). Petrus memberi jawaban yang benar: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup" (Matius 16:16). Yesus menegaskan kebenaran jawaban Petrus dan berjanji bahwa, diatas kebenaran itu, Ia akan membangun gereja-Nya (Matius 16:18).
Hakekat asli dan identitas Yesus Kristus memiliki makna kekal. Setiap orangharus menjawab pertanyaan yang Yesus pertanyakan kepada murid-muridNya: “Menurutmu siapakah Aku?"
Dia memberikan kepada kita jawaban yang benar melalui banyak cara. Dalam Yohanes 14: 9-10, Yesus berkata, "Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya."
Alkitab sangat jelas menunjukkan sifat ilahi dari Tuhan Yesus Kristus (lihat Yohanes 1: 1-14). Filipi 2: 6-7 mengatakan bahwa, meskipun Yesus "yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” Kolose 2: 9mengatakan, "Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan."
Yesus adalah sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia, dan fakta inkarnasi-Nya adalah sangat penting. Ia hidup sebagai manusia tetapi tidak memiliki sifat dosa seperti kita. Dia dicobai tetapi tidak pernah berbuat dosa (Ibrani 2: 14-18; 04:15). Dosa memasuki dunia melalui Adam, dan sifat dosa Adam telah ditransfer ke setiap bayi yang lahir ke dunia (Roma 5:12) -kecuali Yesus. Hal ini karena Yesus tidak memiliki bapa manusia, maka Dia tidak mewarisi sifat dosa. Karena Yesus lahir dari Allah, maka Ia memiliki sifat ilahi dari Bapa Surgawi-Nya.
Yesus harus memenuhi semua persyaratan dari Allah yang kudus agar Dia bisa menjadi korban yang layak diterima untuk menebus dosa kita (Yohanes 8:29; Ibrani 9:14). Dia harus memenuhi lebih dari tiga ratus nubuat tentang Mesias yang telah Allah nubuatkan melalui para nabi (Matius 4: 13-14; Lukas 22:37; Yesaya 53; Mikha 5: 2).
Sejak kejatuhan manusia (Kejadian 3: 21-23), satu-satunya cara bagi manusia untuk dapat dibenarkan oleh Allah sudah membutuhkan curahan darah korban tebusan yang tidak bersalah (Imamat 9: 2; Bilangan 28:19; Ulangan 15:21; Ibrani 9: 22). Hanya Yesus, tak ada lagi yang lain (final), korban yang sempurna yang memuaskan selamanya murka Allah terhadap dosa (Ibrani 10:14). Sifat ilahi-Nya membuat Dia cocok untuk pekerjaan Penebus; Tubuh manusia-Nya memungkinkan Dia untuk menumpahkan darah yang diperlukan untuk menebus. Tidak ada manusia dengan sifat dosa alamiah yang dapat membayar hutang dosa tersebut. Tidak ada seorangpun yang dapat memenuhi syarat untuk menjadi korban tebusan bagi dosa-dosa seluruh dunia (Matius 26:28; 1 Yohanes 2: 2). Jika Yesus hanya seorang manusia biasa yang baik sebagaimana yang diakui banyak agama-agama lain, maka Dia memiliki sifat dosa dan tidak sempurna. Jika demikian maka kematian dan kebangkitan-Nya akan tidak memiliki kekuatan untuk menyelamatkan siapa pun.
Karena Yesus adalah Allah dalam daging/ Allah yang menjadi manusia, maka hanya Dia yang dapatmembayar hutang dosa kita yang harus kita bayar kepada Allah. KemenanganNya atas kematian dan kuburan telah memenangkan kemenangan bagi semua orang yang menempatkan kepercayaan mereka kepada-Nya (Yohanes 1:12; 1 Korintus 15: 3-4, 17).
Ratusan tahun sebelum kelahiran Kristus, nabi Yesaya telah menubuatkan kedatangan Anak Allah: “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” (Yesaya 9: 6). Ketika malaikat itu berbicara kepada Yusuf dan mengumumkan kelahiran yang akan datang dari Yesus, ia mengutip nubuat nabi Yesaya: “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel --yang berarti: Allah menyertai kita.” (Matius 1:23). Ini bukan berarti mereka harus menamakan sang bayi: Immanuel; kutipan ayat ini dinyatakan untuk memberitahukan bahwa "Allah beserta kita" adalah identitas sang bayi. Yesus Tuhan datang sebagai manusia untuk tinggal dengan manusia.
Yesus sendiri memahami spekulasi tentang identitas-Nya. Dia pernah bertanya kepada para murid-Nya, "Kata orang, siapakah Aku ini?" (Matius 16:13; Markus 8:27). Jawaban mereka bervariasi, sebagaimana jawaban orang-orang pada masa kini jika ditanyai pertanyaan yang sama. Lalu Yesus menanyakan pertanyaan yang lebih mendesak: "Menurutmu siapakah Aku?" (Matius 16:15). Petrus memberi jawaban yang benar: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup" (Matius 16:16). Yesus menegaskan kebenaran jawaban Petrus dan berjanji bahwa, diatas kebenaran itu, Ia akan membangun gereja-Nya (Matius 16:18).
Hakekat asli dan identitas Yesus Kristus memiliki makna kekal. Setiap orangharus menjawab pertanyaan yang Yesus pertanyakan kepada murid-muridNya: “Menurutmu siapakah Aku?"
Dia memberikan kepada kita jawaban yang benar melalui banyak cara. Dalam Yohanes 14: 9-10, Yesus berkata, "Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya."
Alkitab sangat jelas menunjukkan sifat ilahi dari Tuhan Yesus Kristus (lihat Yohanes 1: 1-14). Filipi 2: 6-7 mengatakan bahwa, meskipun Yesus "yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” Kolose 2: 9mengatakan, "Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan."
Yesus adalah sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia, dan fakta inkarnasi-Nya adalah sangat penting. Ia hidup sebagai manusia tetapi tidak memiliki sifat dosa seperti kita. Dia dicobai tetapi tidak pernah berbuat dosa (Ibrani 2: 14-18; 04:15). Dosa memasuki dunia melalui Adam, dan sifat dosa Adam telah ditransfer ke setiap bayi yang lahir ke dunia (Roma 5:12) -kecuali Yesus. Hal ini karena Yesus tidak memiliki bapa manusia, maka Dia tidak mewarisi sifat dosa. Karena Yesus lahir dari Allah, maka Ia memiliki sifat ilahi dari Bapa Surgawi-Nya.
Yesus harus memenuhi semua persyaratan dari Allah yang kudus agar Dia bisa menjadi korban yang layak diterima untuk menebus dosa kita (Yohanes 8:29; Ibrani 9:14). Dia harus memenuhi lebih dari tiga ratus nubuat tentang Mesias yang telah Allah nubuatkan melalui para nabi (Matius 4: 13-14; Lukas 22:37; Yesaya 53; Mikha 5: 2).
Sejak kejatuhan manusia (Kejadian 3: 21-23), satu-satunya cara bagi manusia untuk dapat dibenarkan oleh Allah sudah membutuhkan curahan darah korban tebusan yang tidak bersalah (Imamat 9: 2; Bilangan 28:19; Ulangan 15:21; Ibrani 9: 22). Hanya Yesus, tak ada lagi yang lain (final), korban yang sempurna yang memuaskan selamanya murka Allah terhadap dosa (Ibrani 10:14). Sifat ilahi-Nya membuat Dia cocok untuk pekerjaan Penebus; Tubuh manusia-Nya memungkinkan Dia untuk menumpahkan darah yang diperlukan untuk menebus. Tidak ada manusia dengan sifat dosa alamiah yang dapat membayar hutang dosa tersebut. Tidak ada seorangpun yang dapat memenuhi syarat untuk menjadi korban tebusan bagi dosa-dosa seluruh dunia (Matius 26:28; 1 Yohanes 2: 2). Jika Yesus hanya seorang manusia biasa yang baik sebagaimana yang diakui banyak agama-agama lain, maka Dia memiliki sifat dosa dan tidak sempurna. Jika demikian maka kematian dan kebangkitan-Nya akan tidak memiliki kekuatan untuk menyelamatkan siapa pun.
Karena Yesus adalah Allah dalam daging/ Allah yang menjadi manusia, maka hanya Dia yang dapatmembayar hutang dosa kita yang harus kita bayar kepada Allah. KemenanganNya atas kematian dan kuburan telah memenangkan kemenangan bagi semua orang yang menempatkan kepercayaan mereka kepada-Nya (Yohanes 1:12; 1 Korintus 15: 3-4, 17).
Sumber : GotQuestions.org







Yesus Kristus 100% Allah, 100% Manusia
Bagaimana mungkin Yesus adalah Allah dan manusia pada saat bersamaan?
Yesus selamanya adalah Allah (Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada." Yohanes 8:58; "Aku dan Bapa adalah satu." Yohanes 10:30), namun ketika inkarnasi, Yesus mengambil tubuh manusia – Dia menjadi manusia (Firman itu telah menjadi manusia. Yohanes 1:14). Penambahan natur kemanusiaan kepada natur keilahian menjadi Yesus; Allah-Manusia. Inilah Hipostatik/persatuan pribadi, Yesus Kristus sebagai satu Pribadi; Allah yang sempurna dan manusia yang sempurna.
Kedua natur Yesus, kemanusiaan dan keilahianNya, tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Yesus selamanya adalah Allah-Manusia; Allah yang sempurna dan manusia yang sempurna; dua natur/hakekat yang berbeda dalam satu Pribadi.
Kemanusiaan dan keillahian Yesus tidak bercampur, namun bersatu tanpa kehilangan keunikan identitas. Kadang Yesus berfungsi dengan keterbatasan sebagai manusia (Yohanes 4:6; 19:28), namun di waktu lain dengan kuasa keilahianNya (Yohanes 11:43; Matius 14:18-21). Dalam keduanya, tindakan-tindakan Yesus bersumber dari PribadiNya yang satu. Yesus memiliki dua natur/hakekat, namun tetap hanya satu Pribadi.
Doktrin Hipostatik/persatuan pribadi ini sebenarnya adalah upaya untuk menjelaskan bagaimana Yesus itu adalah Allah dan manusia pada saat bersamaan. Walaupun demikian, doktrin ini tentu tidak mampu dipahami manusia secara sempurna. Tidak mungkin manusia yang terbatas dan berdosa bisa memahami cara kerja Allah seutuhnya.
Kita, sebagai manusia yang terbatas, tidak bisa memahami Allah yang tidak terbatas. Yesus adalah Anak Allah dalam pengertian Dia dilahirkan dari Roh Kudus (Lukas 1:35). Namun, hal ini tidak berarti bahwa Yesus belum ada sebelum Dia dikandung. Yesus selalu ada di dalam kekekalan/ Dia kekal adanya (Yohanes 8:58, 10:30). Ketika Yesus dikandung, barulah Dia menjadi manusia, selain Dia tetap adalah Allah sendiri (Yohanes 1:1, 14).
Yesus adalah Allah dan manusia. Yesus senantiasa adalah Allah, namun Dia belum menjadi manusia sampai pada saat Dia dikandung di dalam diri Maria.
Yesus menjadi manusia agar Dia dapat mengidentifikasikan diri dengan kita manusia dalam kelemahan-kelemahan kita (Ibrani 2:17), dan yang lebih penting adalah agar Dia dapat mencurahkan darahNya dan dapat mati di salib untuk membayar hutang dosa kita ("Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!" Filipi 2:5-11).
Secara singkat, doktrin Hipostatik/persatuan pribadi mengajarkan bahwa Yesus adalah Allah dan manusia yang sempurna, bahwa tidak ada percampuran atau pengurangan dari salah satu natur/hakekat tersebut. Yesus adalah satu Pribadi selamanya.